comscore

Surat Kabar Jepang Tetap Bertahan di Era Digital

Willy Haryono - 26 Maret 2022 15:40 WIB
Surat Kabar Jepang Tetap Bertahan di Era Digital
Contoh penggunaan skema Back Front dan Ekstra dalam surat kabar di Jepang. (Hokkaido Shimbun/Jenesys/JICE)
Jakarta: Kelompok jurnalis dalam program pertukaran pelajar dan pemuda Jenesys 2022 yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Jepang berkesempatan menerima pemaparan virtual seputar seluk beluk surat kabar di Negeri Sakura. Narasumber dalam program kali ini adalah Masaki Saito, wartawan surat kabar Hokkaido Shimbun yang sudah berkecimpung di dunia jurnalisme selama lebih kurang 30 tahun.

Saito-san menjelaskan bahwa secara umum, surat kabar masih digemari masyarakat Jepang di tengah era digital seperti saat ini. Hokkaido Shimbun dan koran Jepang lainnya masih bisa bertahan, walau industri media cetak di sejumlah negara sudah mulai memudar karena kalah bersaing dengan media daring.
Salah satu alasan di balik masih bertahannya surat kabar di Jepang adalah demografi pembacanya, terutama dalam kategori usia. Menurut data pemerintah Jepang di tahun 2021, jumlah warga berusia 65 tahun ke atas berjumlah 30 persen, dan diproyeksi bertambah menjadi 35 persen di tahun 2040. Jika dibandingkan dengan Indonesia yang populasi lansianya hanya 6 persen, jumlah tersebut tentu sangat tinggi.

Berdasarkan data September 2021, terdapat 86.510 warga berusia 100 tahun ke atas di Jepang. Dari total tersebut, 88 persennya adalah perempuan. Orang lanjut usia di Jepang dan negara-negara lain cenderung lebih senang menerima informasi dari media konvensional seperti koran. Walau di Jepang juga ada media daring, para lansia lebih suka berhadapan dengan media yang ada bentuk fisiknya.

Secara keseluruhan, operasional Hokkaido Shimbun dan koran-koran lain di Jepang mirip dengan di Indonesia. Hanya ada beberapa perbedaan, seperti penggunaan skema "back front" dan juga edisi "ekstra." "Back front" merujuk pada skema penggunaan halaman depan dan belakang untuk satu isu khusus, terutama saat terjadi peristiwa besar seperti bencana alam.

Sementara edisi "ekstra" berbentuk satu lembar koran berisi informasi penting yang biasanya ditempelkan di sudut-sudut jalan, tembok bangunan, tiang listrik dan lain sebagainya. Seperti Back Front, koran edisi "ekstra" juga biasanya dirilis saat ada bencana.

Mengenai liputan kebencanaan, standar operasi Jepang dan Indonesia tidak jauh berbeda. Para reporter di lapangan didorong untuk melaporkan berita secara tepat dan akurat, melaporkan setiap perkembangan terbaru dengan cepat. Saat menghadapi korban bencana, jurnalis Jepang dan Indonesia juga didorong untuk mengedepankan empati dan rasa kemanusiaan. Penggunaan foto korban bencana untuk dimuat di koran juga harus terlebih dahulu mendapat izin keluarga.

Di akhir pemaparannya, Saito-san mengatakan bahwa prinsip peliputan pada intinya sama untuk media cetak maupun daring. Seorang jurnalis, baik di media cetak maupun daring, harus dapat menyampaikan informasi akurat yang sebenar-benarnya kepada masyarakat.

Surat Kabar Jepang Tetap Bertahan di Era Digital
Kelompok jurnalis dalam program Jenesys 2022. (Jenesys/JICE)

Baca:  Pesona Kota Otaru, "Little Venice" di Hokkaido Jepang

#JENESYS #JENESYS_Indonesia #JENESYS_ASEAN

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id