comscore

Oposisi Kamboja Dijerat 10 Tahun Penjara dengan Tuduhan Penggulingan Hun Sen

Marcheilla Ariesta - 17 Maret 2022 19:08 WIB
Oposisi Kamboja Dijerat 10 Tahun Penjara dengan Tuduhan Penggulingan Hun Sen
Pemimpin oposisi Kamboja Sam Rainsy dijerat hukuman 10 tahun penjara./AFP
Phnom Penh: Pengadilan Kamboja menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada pemimpin oposisi di pengasingan Sam Rainsy. Putusan dikeluarkan hari ini, Kamis, 17 Maret 2022.

Rainsy dituduh bersalah atas dugaan plot untuk menggulingkan Perdana Menteri Hun Sen.
Rainsy telah tinggal di Prancis sejak 2015 untuk menghindari penjara atas sejumlah hukuman yang menurutnya bermotif politik, termasuk hukuman 25 tahun yang dijatuhkan pada Maret tahun lalu.

Selain Rainsy, pengadilan memenjarakan enam tokoh oposisi senior lainnya selama 10 tahun, dan 13 aktivis lainnya selama lima tahun. Seorang aktivis lainnya dijatuhi hukuman percobaan lima tahun.

Terjadi bentrokan di luar pengadilan ketika petugas keamanan mencoba menyita spanduk dari istri dan pendukung terdakwa.

Baca juga: Tertunda 2 Tahun Karena Covid-19, Kamboja Lanjutkan Persidangan Pemimpin Oposisi

"Setelah putusan diumumkan, klien saya yang dipenjara meneriakkan ketidakadilan - mereka sangat marah dengan keputusan itu," kata pengacara Sam Sokong kepada AFP.

Ia menegaskan, mereka akan mengajukan banding. Sementara itu, kerabat para terdakwa merasa putusan tersebut tidk adil.

"Saya berharap dia akan dibebaskan hari ini. Tolong, komunitas internasional membantu suami saya,” kata So Ith, istri salah satu terdakwa.

Tuduhan itu dilancarkan terkait dengan kembalinya Rainsy ke Kamboja pada 2019. Ia meminta warga Kamboja untuk bangkit melawan Hun Sen.

Sekitar 150 tokoh oposisi dan aktivis telah diadili atas tuduhan makar dan penghasutan sebagian besar karena berbagi pesan media sosial yang mendukung kembalinya Rainsy ke kerajaan.

Hun Sen adalah salah satu pemimpin yang paling lama berkuasa di dunia, mempertahankan cengkeraman kuat pada kekuasaan selama lebih dari 30 tahun.

Namun, para kritikus dan kelompok-kelompok hak asasi mengatakan, dia dengan kejam menghancurkan perbedaan pendapat dengan memenjarakan lawan dan aktivis.

Sejak pemilihan umum terakhir pada 2018, ketika partai Hun Sen memenangkan setiap kursi dalam pemungutan suara tanpa oposisi yang kredibel, pihak berwenang Kamboja meningkatkan penangkapan terhadap mantan anggota partai oposisi yang dibubarkan, pembela hak asasi manusia, dan suara-suara yang berbeda pendapat.

Human Rights Watch (HRW) mengutuk putusan tersebut dan mendesak masyarakat internasional untuk mengambil sikap.

"Pengadilan massal dan vonis terhadap lawan politik atas tuduhan tak berdasar adalah perburuan penyihir yang mendiskreditkan pemerintah Kamboja dan pengadilan negara itu," kata Phil Robertson dari HRW dalam sebuah pernyataan.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id