Pedemo Rayakan Tahun Baru Myanmar dengan Protes Diam

    Marcheilla Ariesta - 13 April 2021 15:45 WIB
    Pedemo Rayakan Tahun Baru Myanmar dengan Protes Diam
    Aung San Suu Kyi hingga saat ini masih ditahan oleh pihak militer Myanmar. Foto: AFP



    Yangon: Para penentang pemerintahan militer di Myanmar membatalkan perayaan tahun baru tradisional yang jatuh pada hari ini, Selasa, 13 April 2021. Sebagai gantinya, mereka melakukan protes diam di seluruh negeri.

    Liburan Tahun Baru yang dikenal sebagai Thingyan biasanya dirayakan dengan berdoa, ritual pembersihan patung Buddha di kuil, dan penyiraman air di jalanan.






    "Kami tidak merayakan Myanmar Thingyan tahun ini, karena lebih dari 700 jiwa pemberani kami yang tidak bersalah telah terbunuh," kata seorang pengguna Twitter, Shwe Ei.

    Laman Channel News Asia, Selasa, 13 April 2021 melaporkan, seorang pedemo perempuan mengenakan pakaian bagus untuk hari raya terpenting tahun ini sambil melakukan protes. Ia memegang pot tradisional berisi tujuh bunga dan tangkai yang dipajang saat ini.

    Banyak orang melakukan penghormatan tiga jari saat protes hari ini. Demo dilakukan dibanyak kota dengan warga memasang banyak pot Thingyan dengan pesan 'Selamatkan Myanmar' sebagai langkah menentang militer.

    Tidak ada laporan kekerasan langsung, tetapi informasi menjadi langka karena pembatasan junta pada internet broadband dan layanan data seluler.

    Pedemo telah menyerukan protes serupa sepanjang liburan, yang berlangsung hingga Sabtu, untuk menjaga momentum kampanye mereka. Ini adalah kali kedua berturut-turut perayaan tahun baru dibatalkan. Tahun lalu, itu karena virus korona (covid-19).

    "Kami tidak bisa menikmati (perayaan tahun baru) tahun ini. Kami merayakannya begitu mendapatkan demokrasi," kata pengguna Twitter lainnya, Su Su Koe.

    Kudeta militer telah menjerumuskan Myanmar dalam krisis setelah 10 tahun langkah tentatif menuju demokrasi. Militer menggulingkan pemerintahan yang dipimpin Aung San Suu Kyi karena tidak terima dengan hasil pemilu tahun lalu.

    Suu Kyi, yang telah memimpin perjuangan Myanmar melawan kekuasaan militer selama beberapa dekade dan memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991, telah ditahan sejak kudeta tersebut. Ia bahkan didakwa dengan berbagai pelanggaran, termasuk melanggar tindakan rahasia resmi era kolonial yang bisa membuatnya dipenjara selama 14 tahun.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id