Jumlah Pegawai Negeri Ikut Demo Membludak, Militer Myanmar Terguncang

    Marcheilla Ariesta - 26 Februari 2021 15:56 WIB
    Jumlah Pegawai Negeri Ikut Demo Membludak, Militer Myanmar Terguncang
    Warga Myanmar terus menentang kudeta yang dilakukan oleh pihak militer. Foto: AFP



    Yangon: Jalanan di Myanmar ramai, namun rumah sakit, kantor pemerintah dan fasilitas publik lainnya sepi. Pemogokan yang dilakukan dokter, pegawai pemerintahan menjadi bagian dari gerakan pembangkangan sipil untuk menggagalkan kudeta militer di negara itu.

    "Militer perlu membuktikan bahwa mereka dapat mengelola negara dengan baik sebagai pemerintah. Tapi jika kita, pegawai negeri tidak bekerja, rencana mereka untuk mengambil alih kekuasaan akan gagal," kata Thida, seorang dosen universitas negeri, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 26 Februari 2021.






    Baca: Inggris Tambah Sanksi ke Myanmar, Termasuk Jenderal Min Aung Hlaing.

    Dalam tiga minggu sejak kudeta, Thida menolak untuk mengajar kelas online-nya. Dia bergabung dengan pemogokan nasional yang dimulai oleh petugas medis.

    Banyak dari pegawai pemerintah saat ini bersembunyi untuk menghindari penangkapan. Pemogokan tak hanya terjadi di ibu kota, tapi hampir di semua daerah di negara tersebut. Hal ini melumpuhkan sektor swasta dan memaksa banyak pabrik, kantor, serta cabang bank tutup.

    Namun, yang paling membuat junta terguncang adalah peningkatan jumlah pegawai negeri dalam perlawanan. Tanpa pegawai negeri, militer tidak bisa memungut pajak, mengirimkan tagihan listrik, menguji virus korona (covid-19), atau menjalankan pemerintahan.

    Momok krisis keuangan sudah muncul dan tampak semakin besar. Masih belum jelas berapa banyak dari sekitar 1 juta pekerja sektor publik yang berpartisipasi.

    Satu survei crowdsourced menemukan anggota dari semua 24 kementerian pemerintah sekarang terlibat, sementara pelapor khusus PBB untuk Myanmar memperkirakan tiga perempat pegawai negeri melakukan pemogokan.

    Ketidakhadiran mereka mulai mengkhawatirkan. Hampir sepertiga rumah sakit negara tak lagi berfungsi. Pemimpin militer, Min Aung Hlaing menyalahkan kegagalan profesional medis untuk memenuhi tugas mereka.

    Menurut pernyataan yang dilaporkan media pemerintah, dokter dan guru yang bekerja akan mendapat hadiah berupa uang tunai. Namun, jumlah pegawai negeri yang mogok kerja semakin bertambah.



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id