comscore

Militer Myanmar Kembali Tangkap Jurnalis dalam Tindakan Keras ke Media

Fajar Nugraha - 21 Januari 2022 07:05 WIB
Militer Myanmar Kembali Tangkap Jurnalis dalam Tindakan Keras ke Media
Ilustrasi oleh Medcom.id.
Yangon: Militer Myanmar telah menangkap tiga orang jurnalis yang bekerja untuk portal berita independen Dawei Watch, seorang editor di publikasi tersebut mengatakan pada Kamis 20 Januari 2022. Ini adalah penahanan terbaru di bawah tindakan keras media yang telah terjadi sejak kudeta tahun lalu.

“Moe Myint, seorang jurnalis berusia 35 tahun dan ibu dari tiga anak, ditahan pada hari Selasa di Dawei, sebuah kota di Myanmar selatan,” kata seorang editor, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.
Wartawan lain, Ko Zaw, 38, dan Thar Gyi, seorang desainer web berusia 21 tahun di publikasi tersebut, ditangkap pada Rabu.

"Mereka saat ini ditahan di kantor polisi di Dawei dan alasan penangkapan mereka masih belum diketahui," kata editor, yang menyerukan agar mereka segera dibebaskan, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat 21 Januari 2022.

Seorang juru bicara junta militer yang berkuasa tidak menanggapi permintaan komentar.

Junta sebelumnya mengatakan, mereka menghormati peran media tetapi tidak akan membiarkan pelaporan yang dianggap salah atau kemungkinan akan menyebabkan kerusuhan publik.

Militer telah mencabut izin media, memberlakukan pembatasan di internet dan siaran satelit dan menangkap puluhan wartawan sejak kudeta 1 Februari.

Myanmar menduduki peringkat sebagai penjara wartawan terburuk kedua di dunia dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Committee to Protect Journalists.

Reporting ASEAN, sebuah kelompok advokasi media Asia Tenggara mengatakan, sejak kudeta 115 wartawan telah ditahan dan 44 tetap ditahan dan tiga orang meninggal.

Beberapa jurnalis asing juga ditahan, termasuk jurnalis Amerika Serikat (AS) Danny Fenster, yang merupakan redaktur pelaksana majalah online independen, Frontier Myanmar.

Fenster dijatuhi hukuman 11 tahun penjara November lalu atas tuduhan menghasut dan pelanggaran undang-undang tentang imigrasi dan pertemuan yang melanggar hukum. Dia akhirnya dibebaskan setelah negosiasi antara mantan diplomat AS Bill Richardson dan junta Myanmar.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id