Ekstradisi Pembobol BNI Sempat Terkendala Pandemi Korona

    Fajar Nugraha - 09 Juli 2020 17:43 WIB
    Ekstradisi Pembobol BNI Sempat Terkendala Pandemi Korona
    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa, berhasil diekstradisi dari Serbia ke pemerintah Indonesia setelah 17 tahun buron. DOK Kemenkumham
    Jakarta: Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa, berhasil diekstradisi dari Serbia ke Indonesia. Berbagai pendekatan dilakukan untuk meloloskan proses ekstradisi itu.

    “Sejak penangkapannya oleh Pemeritah Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla tanggal 16 Juli 2019, KBRI Beograd telah melakukan langkah diplomasi terkait upaya hukum,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, kepada Medcom.id, Kamis 9 Juli 2020.

    “Pendekatan diplomatik juga dilakukan guna mendapatkan kepastian dukungan Pemerintah Serbia untuk menyetujui esktradisi Maria Paulienne Lumowa (MPL), kepada Pemerintah Indonesia. (Karena) belum ada perjanjian ekstradisi,” imbuhnya.

    Baca: Buron 17 Tahun, Pembobol BNI Diekstradisi dari Serbia.

    Mantan Duta Besar RI untuk Kanada itu menambahkan bahwa pemerintah melalui KBRI di Beograd terus mengawal proses esktradisi tersebut.

    “Pendekatan pun dilakukan KBRI misalnya dengan memintakan fleksibiltas dari sisi waktu karena rencana pemulangan/ekstradisi terkendala pandemi virus korona,” tutur Faizasyah.

    Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyelesaikan proses ekstradisi terhadap buronan pelaku pembobolan Bank BNI sebesar Rp1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa, dari Pemerintah Serbia.

    Yasonna mengatakan keberhasilan menuntaskan proses ekstradisi tersebut tidak lepas dari diplomasi hukum dan hubungan baik kedua negara. "Proses ekstradisi ini juga menjadi buah manis komitmen Pemerintah dalam upaya penegakan hukum yang berjalan panjang," katanya.

    Menkumham juga menyebut bahwa keberhasilan ekstradisi terhadap Maria Pauline Lumowa juga tidak lepas dari asas resiprositas (timbal balik). Sebelumnya, Indonesia sempat mengabulkan permintaan Serbia untuk mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015.

    Duta Besar RI untuk Republik Serbia dan Montenegro, M Chandra Widya Yudha, mengirimkan surat permintaan ekstradisi. Pemerintah Republik Serbia mengabulkan permintaan Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehakiman Serbia Nomor 713-01-02436/ 2019-08 tertanggal 6 April 2020.

    Pelarian Maria


    Diketahui, Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.

    Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

    Baca: Ekstradisi Pembobol BNI Maria Pauline Sempat Dihalangi.

    Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

    Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

    Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

    Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

    Pemerintah Indonesia sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, karena Maria Pauline Lumowa ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Namun, kedua permintaan itu direspons dengan penolakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang malah memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.

    “Penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang diterbitkan pada 22 Desember 2003. Pemerintah bereaksi cepat dengan menerbitkan surat permintaan penahanan sementara yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan ekstradisi melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham," kata Yasonna.

    Keseriusan Pemerintah juga ditunjukkan dengan permintaan percepatan proses ekstradisi terhadap Maria Pauline Lumowa. Di sisi lain, Pemerintah Serbia juga mendukung penuh permintaan Indonesia berkat hubungan baik yang selama ini dijalin kedua negara.

    "Dengan selesainya proses ekstradisi ini, berarti berakhir pula perjalanan panjang 17 tahun upaya pengejaran terhadap buronan bernama Maria Pauline Lumowa,” ungkap Menkumham Yasonna.

    Maria tiba di Tanah Air Kamis, 9 Juli 2020. Setelah 17 tahun buron, Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan pelanggaran Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id