Adi Utarini, Peneliti Nyamuk Indonesia yang Masuk di Daftar 100 Orang Berpengaruh Dunia

    Fajar Nugraha - 16 September 2021 16:29 WIB
    Adi Utarini, Peneliti Nyamuk Indonesia yang Masuk di Daftar 100 Orang Berpengaruh Dunia
    Adi Utarini masuk dalam 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia versi Majalah Time. Foto: Time



    Yogyakarta: Sosok Adi Utarini, seorang pengajar yang juga dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, memberikan kebanggaan bagi Indonesia. Peneliti mengenai nyamuk itu masuk daftar 100 Orang Paling Berpengaruh versi Majalah Time.

    Nama Adi masuk dalam daftar yang dikeluarkan oleh Time pada 15 September 2021. Profesor Adi masuk ke dalam kategori pioneer atau pelopor.

    Kata pengantar untuk Profesor Adi pun dituliskan oleh Melinda French Gates, mantan istri dari Bill Gates pemilik dari Microsoft. Melinda juga menjadi co-chair Bill and Melinda Gates Foundation dan pendiri Pivotal Ventures.

    “Beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan ke Indonesia, saya mengunjungi sebuah keluarga di dekat lab Adi Utarini di Yogyakarta. Saya ingin mendengar bagaimana dia berhasil meyakinkan mereka untuk membiarkan dia melepaskan sekawanan nyamuk di sekitar lingkungan mereka,” sebut Melinda dikutip dari Time.

    “Kebanggaan mereka yang nyata menjadi bagian dari pekerjaannya merupakan bukti kepercayaan yang diperoleh Adi Utarini dari komunitasnya dan atas urgensi yang dirasakan jutaan orang di seluruh dunia dalam memerangi demam berdarah,” jelasnya.

    Menurut Melinda ini adalah kemenangan kemajuan global bahwa sebagian besar tingkat penyakit menular cenderung menurun dari tahun ke tahun. Demam berdarah, bagaimanapun, adalah pengecualian yang keras kepala. Penyakit yang ditularkan nyamuk mempengaruhi hampir 400 juta orang setiap tahun dan telah digambarkan oleh WHO sebagai salah satu dari 10 ancaman terbesar bagi kesehatan dunia.

    Profesor Adi  bekerja sama dengan tim peneliti internasional dari World Mosquito Program untuk mengekang ancaman ini dengan menginokulasi nyamuk dengan Wolbachia, bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi mencegah nyamuk menularkan demam berdarah melalui gigitannya.

    Bagi Melinda, ini adalah sebuah studi terobosan yang dia bantu pimpin adalah yang pertama membuktikan teknik ini berhasil menurunkan tingkat penyakit di lingkungan komunitas.

    “Saat ini, hampir semua orang di Yogyakarta mengenal seseorang yang pernah terkena DBD. Adi Utarini sendiri terserang dua kali dan selamat. Dengue, bagaimanapun, mungkin tidak bertahan darinya.

    Perempuan berusia 56 tahun itu juga mendapatkan penghargaan dari jurnal ilmiah Nature. Sosok yang bisa disapa Profesor Uut itu, pada Desember 2020, Adi Utarini dianugerahi penghargaan 10 peneliti paling berpengaruh di dunia.(FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id