Dituduh Lambat Terapkan Konsensus ASEAN, Junta Myanmar Bela Diri

    Fajar Nugraha - 08 Juni 2021 13:50 WIB
    Dituduh Lambat Terapkan Konsensus ASEAN, Junta Myanmar Bela Diri
    Warga Myanmar menentang kudeta militer dengan lakukan protes. Foto: AFP



    Yangon: Pejabat yang ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri Myanmar, Wunna Maung Lwin menanggapi tuduhan bahwa pihaknya lambat untuk menerapkan 5 konsensus yang disepakati para kepala negara ASEAN. Konsensus itu dimaksudkan untuk mengakhiri kekacauan yang terjadi akibat kudeta 1 Februari.

    Junta tidak terlalu mengindahkan tuntutan ASEAN untuk menghormati "konsensus" untuk mengakhiri kekerasan dan mengadakan pembicaraan politik dengan lawan-lawannya.

     



    Baca: Kemajuan Berjalan Lambat, Indonesia Desak Pengiriman Utusan Khusus ke Myanmar.

    Para Menteri Luar Negeri ASEAN menyatakan kekecewaannya pada pertemuan di Tiongkok pada Senin atas kemajuan "sangat lambat" yang dibuat oleh Myanmar pada proposalnya untuk mengakhiri kekacauan, sejak tentara menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

    Media pemerintah mengutip Wunna Maung Lwin yang mengatakan pada pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN-Tiongkok bahwa militer telah membuat kemajuan pada peta jalan lima langkahnya sendiri. Peta jalan itu diungkapkan setelah kudeta.

    "Menteri memberi tahu pertemuan itu bahwa satu-satunya cara untuk memastikan sistem demokrasi yang disiplin dan murni adalah melalui lima poin program masa depan yang dideklarasikan pada Februari," lapor Global New Light of Myanmar, seperti dikutip The Straits Times, Selasa 8 Juni 2021.

    “Selain itu Menteri mengatakan bahwa sebagian besar poin ini telah dipenuhi termasuk langkah-langkah pencegahan covid-19 dan membentuk komisi pemilihan baru untuk menyelidiki dugaan penipuan selama pemilihan November yang disapu oleh partai Suu Kyi,” kata surat kabar itu.

    Militer membela perebutan kekuasaannya setelah satu dekade langkah tentatif menuju demokrasi dengan mengatakan, komisi pemilihan yang lama telah mengabaikan pengaduannya tentang kecurangan.

    Junta telah gagal untuk memaksakan kontrol sejak menggulingkan Suu Kyi, yang termasuk di antara lebih dari 4.500 orang yang ditahan sejak kudeta.

    Pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 849 pengunjuk rasa, meskipun tentara membantah angka itu. Junta juga dihadapkan pada pemberontakan di beberapa daerah telah berkobar.

    Khawatir dengan gejolak tersebut, beberapa anggota ASEAN menyerukan pembebasan tahanan politik, diakhirinya kekerasan dan agar  Myanmar mengadakan pembicaraan untuk mengakhiri krisis - seruan yang tercermin dalam "konsensus" ASEAN.

    Tetapi dalam satu-satunya referensi untuk proposal ASEAN, menteri Myanmar dikutip mengatakan "diskusi dilakukan dengan ramah" selama kunjungan minggu lalu oleh dua utusan ASEAN. Sekjen ASEAN dan Brunei yang saat ini memegang keketuaan ASEAN, menyerukan pembebasan tahanan politik.
     
    Baca: ASEAN Sepakati 5 Poin Konsensus Terkait Myanmar.

    Para penentang junta telah menunjukkan rasa frustrasi yang meningkat atas ketidakmampuan ASEAN untuk menekan junta dan kegagalannya untuk memasukkan pemangku kepentingan politik lainnya, terutama pemerintah yang digulingkan. Sementara junta telah mencap lawannya sebagai ‘teroris’.

    Surat kabar Global Times milik pemerintah Tiongkok mengutip pemimpin junta Min Aung Hlaing yang mengatakan kepada duta besar Tiongkok bahwa Myanmar bersedia mengoordinasikan pelaksanaan konsensus.

    Setelah pertemuan Senin, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan, “bantuan Tiongkok akan sangat dihargai karena ini akan berkontribusi untuk mencapai solusi damai".

    Sebuah pemerintahan bayangan, National Unity Government (NUG), yang dibentuk oleh penentang antikudeta mengkritik Kedutaan Besar Tiongkok di Myanmar karena menyebut kepala junta sebagai "pemimpin" Myanmar dalam sebuah posting di situsnya.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id