Pendekatan One Health Indonesia untuk Jaga Keanekaragaman Hayati

    Marcheilla Ariesta - 01 Oktober 2020 13:59 WIB
    Pendekatan One Health Indonesia untuk Jaga Keanekaragaman Hayati
    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar. Foto: Kementerian LHK
    Jakarta: Bumi merupakan tempat yang layak untuk semua makhluk hidup dengan harmonis. Pernyataan ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Keanekaragaman Hayati di sela Sidang Majelis Umum PBB.

    "Untuk Indonesia, pendekatan One Health yang memadukan Healthy Environment, Healthy Animal dan Healthy People adalah pendekatan yang sesuai dengan kondisi global saat ini," kata Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis Kementerian KLH, Kamis, 1 Oktober 2020.

    Dalam pertemuan virtual itu, Siti mengatakan pendekatan yang diambil Indonesia mendasari kebijakan di bidang keragaman hayati, antara lain penetapan sekitar 66 juta hektar dari 120 hektar kawasan hutan, atau 35 persen dari 190 juta hektar luas daratan, serta menetapkan 23,38 juta hektar atau sekitar 7,19 persen dari luas wilayah laut, sebagai kawasan yang dilindungi.

    Ia menambahkan, Indonesia juga menguatkan fungsi HCVF di 1,34 juta hektar konsesi dan mengonsolidasikan habitat satwa yang terfragmentasi untuk keselamatan spesies.

    Selain itu, imbuh dia, Indonesia telah berhasil meningkatkan populasi beberapa spesies langka, antara lain Badak Jawa, Gajah Sumatra, Harimau Sumatra, dan Curik Bali.

    "Indonesia juga telah mengembangkan tiga jenis bioprospeksi, yaitu Isolat bakteri Anti-frost, Anti-cancer, dan jamur bernilai ekonomi tinggi," imbuhnya.

    Dalam pertemuan ini, Siti Nurbaya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun Kerangka Kerja Sama Pasca 2020 dengan memperhatikan kemanfaatan bersama termasuk dukungan bagi negara berkembang dalam mobilisasi sumber daya dan transfer teknologi.

    Ia juga mengajak untuk mendorong dan memanfaatkan kawasan konservasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi ramah lingkungan dalam bentuk antara lain ekowisata, mandi hutan, terapi hutan, dan pengembangan tanaman obat dan material genetik lainnya.  

    "Semua ini dilakukan melalui mekanisme pembagian manfaat yang adil yang mengapresiasi kearifan masyarakat lokal terkait pemanfaatan informasi dan materi keanekaragaman hayati," tuturnya.

    "Kita juga harus memperkuat pelaksanaan agenda global lainnya seperti Agenda 2030 dan Paris Agreement," pungkas Siti Nurbaya.

    Pertemuan Tingkat Tinggi tentang Keanekaragaman Hayati di sela-sela Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-75 tersebut bertema  'Urgent Action on Biodiversity for Sustainable Development'.

    Pertemuan ini menyoroti urgensi tindakan pada tingkat tertinggi dalam mendukung Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Pasca 2020 yang berkontribusi pada Agenda 2030 dan mewujudkan Visi 2050 Keanekaragaman Hayati 'Living in Harmony with Nature'.
     

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id