4 Prajurit Myanmar Tewas dalam Bentrokan dengan Milisi di Wilayah Chin

    Fajar Nugraha - 05 Mei 2021 09:46 WIB
    4 Prajurit Myanmar Tewas dalam Bentrokan dengan Milisi di Wilayah Chin
    Para pemuda di wilayah Hakka, Myanmar menyalakan lampu di telepon selular dalam sebuah aksi protes. Foto: AFP



    Yangon: Pasukan keamanan Myanmar tidak hanya dihadapkan pada kelompak pedemo antikudeta. Mereka juga berhadapan dengan milisi separatis di beberapa negara bagian.

    Bentrokan baru antara militer Myanmar dengan milisi Negara Bagian Chin pada 4 Mei menyebabkan empat orang prajurit tewas. Selain itu beberapa prajurit Myanmar juga menderita luka-luka.

     



    Pembunuhan tentara di negara bagian Chin, dekat perbatasan dengan India, menyusul jatuhnya helikopter militer di negara bagian Kachin pada  Senin. Bentrokan terjadi saat serangkaian serangan di bagian lain Myanmar pada pertengahan April di mana warga sipil bersenjata yang melawan junta mengambil minyak mentah, senjata dan membunuh lebih dari puluhan pasukan keamanan.

    Seorang anggota Pasukan Pertahanan Chinland (CDF) mengatakan kepada Radio Free Asia (RFA) Myanmar Service bahwa milisi menyerang pasukan di dua pos pemeriksaan keamanan dekat ibu kota negara bagian Hakha. Serangan ini merupakan sebagai pembalasan atas "pemeriksaan dan pemantauan yang menindas" penduduk di gerbang tol, yang mengakibatkan korban.

    "Kami menembaki mereka satu kali sebelumnya di malam hari dan tidak ada cedera di kedua sisi," kata pernyataan CDF, dikutip RFA, Rabu 5 Mei 2021.

    CDF mencatat bahwa bentrokan dimulai sekitar pukul 17.00 waktu setempat. “Tapi kemudian, sekitar pukul 23.00, terjadi bentrokan lagi di dekat pertigaan Hakha-Kalemyo. Itu gelap dan tidak ada orang di pihak kami yang terluka. Empat tentara ditembak mati. Beberapa tentara juga terluka,” jelasnya.

    Sebelumnya pada Senin, sekelompok anak muda di Hakha telah meneriakkan slogan dan menempelkan selebaran di gedung-gedung untuk mendukung CDF. Namun slogan itu kemudian dirobohkan oleh tentara, mengancam akan menembak siapa saja yang mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

    Seorang penduduk Hakha mengatakan kepada RFA bahwa serangan malam itu merupakan tanggapan atas tindakan militer hari itu.

    “Pada malam hari, (CDF) melepaskan beberapa tembakan ke tentara di bangsal Kyauk-bote. Serangan itu tidak dimaksudkan untuk membunuh siapa pun,” katanya.

    “Lalu, sekitar pukul 11.00 ??malam, terjadi ledakan kecil dan tembakan meletus. Yang pasti, ada yang tewas. Bentrokan itu berlangsung lebih dari satu jam. CDF menyerang tentara karena mereka mengganggu warga kota sepanjang hari kemarin. Itulah yang kami dengar,” imbuh pihak CDF.

    Selain mengklaim bertanggung jawab atas serangan Senin, CDF mengklaim telah membunuh empat tentara lainnya dalam bentrokan Minggu.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id