Khawatir Terjangkit Covid-19, Mantan PM Bangladesh Dibebaskan

    Arpan Rahman - 25 Maret 2020 13:02 WIB
    Khawatir Terjangkit Covid-19, Mantan PM Bangladesh Dibebaskan
    Mantan PM Bangladesh Khaleda Zia. (Foto: AFP)
    Dhaka: Pemerintah Bangladesh berencana membebaskan sementara mantan perdana menteri Khaleda Zia dari penjara di tengah mewabahnya virus korona (covid-19). Ia dibebaskan atas dasar kemanusiaan di tengah kondisi kesehatannya yang kurang baik.

    "Kami memutuskan untuk membebaskannya atas dasar kemanusiaan sesuai instruksi langkah dari perdana menteri," kata Menteri Hukum Bangladesh Anisul Huq. "Dia boleh menjalani perawatan di rumah, tapi tidak boleh ke luar negeri," sambungnya, disitat dari UPI, Rabu 25 Maret 2020.

    Media Bdnews24.com melaporkan, Khaleda merasa kurang enak badan. Sejumlah pejabat Bangladesh khawatir Khaleda rentan terjangkit covid-19 selama mendekam di penjara. Sebelumnya, ia telah dipindahkan dari penjara ke Universitas Bangabandhu Sheikh Mujib Medical untuk perawatan medis.

    Lewat aturan terbaru, maka Khaleda akan dipindahkan dari universitas ke rumahnya. "Ia sudah dimasukkan ke rumah sakit terbaik di Bangladesh. Ia tidak boleh ke luar negeri. Di bawah situasi sulit seperti ini, mengirim seseorang ke luar negeri sama seperti meminta orang untuk bunuh diri," ucap Anisul.

    Pada Oktober 2018, sebuah pengadilan menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara kepada Khaleda atas kasus korupsi. Ia dijerat pasal penyelewengan kekuasaan usai menggelar penggalangan dana yang kemudian uangnya dipakai untuk kepentingan pribadi.

    Selain vonis penjara, Khaleda juga dikenai denda dan dipaksa menyerahkan sejumlah lahan yang telah dibelinya melalui Zia Charitable Trust.

    Saat vonis kasus korupsi dijatuhkan, Khaleda sudah berada di dalam penjara atas kasus penggelapan dana sebuah panti asuhan. Dari total vonis tujuh tahun penjara, Khaleda sudah mendekam selama 25 bulan.

    Khaleda menjabat sebagai PM Bangladesh dari 1991 hingga 1996, dan berkuasa kembali dari 2001 hingga 2006. Ia merupakan ketua dari Partai Nasionalis Bangladesh.

    Universitas Johns Hopkins mencatat adanya 39 kasus covid-19 di Bangladesh dengan empat kematian pada Selasa siang. Bangladesh kini tengah bersiap memutus sistem komunikasi dan memerintahkan semua warganya untuk tetap berada di dalam rumah demi menekan penyebaran covid-19.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id