comscore

Indonesia Hidupkan Kembali Review HAM di ASEAN

Fajar Nugraha - 10 Desember 2021 08:17 WIB
Indonesia Hidupkan Kembali Review HAM di ASEAN
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut serta dalam Summit for Democracy yang diinisiasi oleh Amerika Serikat (AS). Dok. BPMI.
Jakarta: Summit for Democracy diadakan oleh Amerika Serikat (AS) pada 9-10 Desember 2021. Konferensi tingkat tinggi (KTT) ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara virtual dan Indonesia menjelaskan mendorong kemajuan demokrasi di Asia Tenggara.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang mendampingi Jokowi dalam pertemuan itu menyebutkan, Presiden menjelaskan dalam KTT bahwa Indonesia memotori pembentukan ASEAN Inter-Governmental Commission on Human Right.

 



“Indonesia juga menjadi inisiator pelaksanaan human right dialogue sejenis universal periodic review (UPR) di ASEAN. Setelah sembilan tahun terhenti  untuk tahun ini, dialog dihidupkan kembali oleh Indonesia,” ujar Menlu Retno dalam keterangan virtual yang diterima wartawan, Jumat 10 Desember 2021.

Baca: Pada Summit for Democracy, Jokowi Tegaskan Komitmen Indonesia Majukan Demokrasi.

“Dan, secara sukarela Indonesia memajukan diri sebagai negara pertama  yang melakukan review.  Indonesia juga terus mendorong pemajuan demokrasi dan HAM melalui forum OKI,” imbuh Menlu.

Mengenai Myanmar, Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi agar kesepakatan ASEAN 5PC (5 Point of Consensus) dapat diimplementasikan. Demokrasi di  Myanmar akan dapat dipulihkan melalui dialog inklusif.

Presiden sampaikan bahwa Indonesia meyakini  pemajuan demokrasi, HAM, dan good governance dapat tumbuh dan  berkembang jika kerja sama dikedepankan. Oleh karena itu, dukungan semua pihak diperlukan.  Aspirasi seluruh elemen perlu didengarkan dan tidak boleh ada yang  tertinggal.

Menlu turut menjelaskan, dalam pertemuan itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sebagai tuan rumah KTT menyampaikan beberapa hal, di antaranya adalah:

Bahwa demokrasi adalah aksi, bukan sebuah keadaan yang bersifat given. Untuk itu demokrasi memerlukan usaha yang terus menerus, kepempinan, dan komitmen yang terus diperbarui.

Kemudian, terlepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi, demokrasi  masih menjadi alat terbaik untuk mencapai kesejahteraan.

Biden juga menjelaskan bahwa tidak ada model demokrasi yang sempurna, jadi diperlukan dialog bersama untuk saling berbagi best practices. AS juga tidak akan mengajari demokrasi, namun bermaksud bekerja  sama untuk menguatkan komitmen.

Selain itu, Biden juga menjelaskan bahwa demokrasi di masa pandemi menghadapi tantangan yang meningkat, jadi demokrasi harus memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan.

AS sampaikan komitmen untuk perkuat demokrasi melalui  diplomasi dan development assistant. Tidak hanya itu, Biden juga menyampaikan agenda untuk perkuat institusi  demokrasi gender equality di tingkat nasional di Negeri Paman Sam.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id