comscore

Pemuda Indonesia Minta Para Pemimpin G20 Berbuat Lebih untuk Perubahan Iklim

Willy Haryono - 02 April 2022 11:11 WIB
Pemuda Indonesia Minta Para Pemimpin G20 Berbuat Lebih untuk Perubahan Iklim
Sebanyak 222 pemuda Indonesia mengikuti kompetisi video daring seputar perubahan iklim. (FPCI / Kedubes Inggris di Jakarta)
Jakarta: Pemuda Indonesia meminta Indonesia, dan semua pemimpin G20, untuk berbuat lebih banyak dalam mengatasi isu darurat perubahan iklim. Seruan ini disampaikan mereka melalui sebuah kompetisi video daring di Instagram.

Indonesia memegang Kepresidenan G20 tahun ini, dan negara-negara G20 secara keseluruhan bertanggung jawab atas 80 persen emisi karbon di dunia.
Menyusul berakhirnya Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) pada November 2021, FPCI dan Kedutaan Besar Inggris Jakarta mengadakan kompetisi video Instagram nasional untuk lebih mempromosikan hasil COP26, termasuk Pakta Iklim Glasgow. Tema Video Competition #DearG20Leaders adalah “Hasil dari kesepakatan pada COP26 and Apa selanjutnya untuk pertemuan G20."

Sebanyak 222 pemuda Indonesia telah mengikuti kompetisi video ini, dan video mereka telah dilihat dan dibagikan ratusan ribu kali. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia peduli dengan perubahan iklim, dan menginginkan lebih banyak tindakan.

Setiap video yang dikumpulkan berdurasi 1 hingga 4 menit dan terdiri dari pesan masyarakat Indonesia kepada para pemimpin negara-negara G20. Video-video tersebut berisikan pengamatan, analisis, dan rekomendasi tentang komitmen iklim Indonesia yang dibuat di COP26 sehubungan dengan kepresidenan Indonesia di G20. Berbagai video kreatif diunggah, mulai dari pidato, animasi, infografis, lagu dan rap.

Sebagian besar video menjelaskan gambaran umum tentang hasil COP26 seputar adaptasi, mitigasi, dan pendanaan iklim. Mereka kemudian meminta para Pemimpin G20 untuk bergerak lebih dari sekedar penetapan nilai dan “dokumen PDF” dan memberikan solusi nyata untuk krisis iklim.

Juara pertama Gustomi Sutioso (@Mgsutioso), dari Pemalang di Jawa Tengah mengatakan bahwa sebagai Presiden G20, dan negara yang rentan terhadap banjir yang disebabkan oleh pemanasan global, Indonesia perlu memberikan contoh yang baik dan menunjukkan ambisi yang tinggi untuk mengatasi perubahan iklim. Ia mengatakan bahwa Indonesia berada di peringkat "sangat tidak memadai" di Climate Tracker dan meminta Indonesia untuk mempertimbangkan memperbarui NDC-nya.

Gustomi juga berharap rasa urgensi yang sama juga terlihat dalam menanggulangi perubahan iklim yang ditunjukkan dalam perbaikan lingkungan bisnis, melalui Omnibus law. Ia optimistis negara-negara G20 bisa mengambil tindakan.

Masing-masing dari ketiga Runner Up tersebut juga memiliki pesan yang kuat bagi para Pemimpin G20 dan Indonesia, sebagai memegang Kepresidenan G20.

Constanza Vivecka Tanoyo (@constanza_vecka) berusia 7 tahun dari Surabaya, ingin ikut berpartisipasi lebih lanjut tentang perubahan iklim karena kompetisi tersebut. Dia menyarankan bahwa perubahan iklim harus menjadi bagian dari kurikulum di sekolah, karena dia telah belajar banyak – termasuk realita bahwa tenaga surya sekarang menjadi sumber listrik termurah dalam sejarah. Dalam sesi tanya jawab, ia mengatakan bahwa itu adalah ambisinya untuk menjadi seorang guru suatu hari nanti, mengajar murid-muridnya tentang lingkungan dan perubahan iklim. Constanza juga meminta Indonesia untuk memperbarui NDC-nya – mengingat “mekanisme ratchet” mendorong negara-negara untuk meninjau dan meningkatkan komitmen mereka, dan Indonesia belum mengubah angka mereka sejak Perjanjian Paris pada tahun 2015.

Fachri Ali (@sipitipis) dari Bogor menunjukkan bahwa Perjanjian Paris, untuk menjaga pemanasan rata-rata global di bawah 2 derajat dan diharapkan membatasi kenaikan suhu global rata-rata hingga 1,5 derajat, bersifat mengikat secara hukum. Ia mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara besar, dapat memperjelas rutenya menuju Net Zero dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, karena energi terbarukan sekarang lebih murah untuk membangun dan memelihara daripada memelihara pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada. Dia mengatakan bahwa masalah yang tidak dapat diprediksi dapat diatasi dengan teknologi penyimpanan energi – termasuk penggunaan pompa hidro, baterai, dan penyimpanan udara terkompresi.

M. Solahudin Al Ayubi (@solah_ayubi), yang juga dari Bogor, mengatakan Indonesia sebagai tuan rumah Kepresidenan G20 pada tahun 2022 harus berperan besar untuk mendorong negara-negara G20 lainnya untuk menjalankan komitmennya dan bekerja sama, untuk menjaga kenaikan suhu global menjadi 1,5 derajat. Perubahan Iklim adalah masalah kolektif, dan bukan hanya tanggung jawab beberapa negara, tetapi tanggung jawab kita bersama – untuk membuat dunia dan masa depan yang lebih baik, untuk generasi berikutnya

"Saya pikir kita memulai langkah awal yang baik, membuat kaum muda mengembangkan kesadaran iklim yang kuat. Tahun 2050 masih jauh, satu generasi lagi, tetapi Anda semua akan berada di puncak hidup Anda dan berada di masa paling produktif Anda. Anda akan menjadi menteri, direktur, CEO, dan jenis lingkungan dan iklim dunia tempat Anda tinggal akan menentukan kualitas hidup Anda," kata Pendiri dan Ketua dari Foreign Policy Community of Indonesia, Dr. Dino Patti Djalal, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Jumat, 1 April 2022.

"Jadi, sangat penting bagi Anda untuk mengambil peranan dalam perjuangan dan memiliki kepemilikan penuh atas masa depan iklim Anda. 10 tahun ke depan adalah masa yang paling penting," sambungnya.

Baca: Presiden: Perubahan Iklim Bawa Dampak Buruk bagi Indonesia
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id