Umumkan Darurat Militer, Junta Myanmar Salahkan Kekerasan pada 'Teroris Bersenjata'

    Marcheilla Ariesta - 14 Mei 2021 16:21 WIB
    Umumkan Darurat Militer, Junta Myanmar Salahkan Kekerasan pada 'Teroris Bersenjata'
    Protes anti-kudeta di Myanmar terus berlanjut. Foto: AFP.



    Chin: Junta Myanmar mengumumkan darurat militer di salah satu kota negara tersebut. Mereka menyalahkan 'teroris bersenjata' atas serangan di kantor polisi dan bank.

    Pengumuman ini disampaikan di tengah meningkatnya pertempuran antara militer dan pemberontak etnis di daerah perbatasan.

     



    Kantor Berita Myanmar News Agency melaporkan, pada Rabu dan Kamis kemarin, sekitar 100 orang bersenjata rakitan menyerang kantor polisi. Tak hanya itu, mereka juga dilaporkan menargetkan 50 orang di Bank Ekonomi Myanmar.

    Pasukan keamanan dilaporkan menangkis serangan tersebut tanpa menimbulkan korban. Insiden ini terjadi di Mindat, salah satu kota di negara bagian Chin.

    Sebuah dokumen yang menyatakan pemberlakukan darurat militer di kota tersebut, diunggah ke The Global New Light of Myanmar, sebuah surat kabar negara.

    Sementara itu, sebuah dokumen lainnya diunggah di media sosial yang mengklaim berasal dari pemerintahan anti-junta. Mereka mengatakan deklarasi darurat militer tidak valid.

    Dalam dokumen tersebut, dikatakan pertempuran itu dipicu tentara yang melanggar janji untuk membebaskan tujuh warga sipil yang ditahan selama protes baru-baru ini.

    Baca juga: Thailand Tangkap 3 Jurnalis Myanmar yang Kabur dari Militer

    "Mereka (junta) tidak bisa lagi memerintah kota kecuali di beberapa daerah, di mana mereka memiliki pangkalan (militer). Mereka tidak memiliki kendali di daerah pedesaan," ucap juru bicara Pasukan Pertahanan Chinland, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 14 Mei 2021.

    Milisi yang baru dibentuk tersebut mengatakan seorang anggota mereka tewas dan bentrokan terus berlanjut. Sementara junta masih belum bisa dimintai komentar terkait hal ini.

    Sebagai tanda lebih lanjut dari pembangkangan terus menerus terhadap aturan militer, video di media sosial menunjukkan pendukung pro-demokrasi terus meneriakkan mereka bisa menang melawan junta.

    "Kami percaya bahwa kami akan menang, kami harus menang, kami harus menang," teriak mereka.

    Sebanyak 788 orang dilaporkan tewas dalam penindasan terhadap protes oleh pasukan keamanan sejak 1 Februari lalu. Namun, konfirmasi jumlah korban tidak dapat dilakukan karena pembatasan pada media, layanan internet dan siaran satelit oleh junta.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id