Thailand Keluarkan Perintah Tangkap Pedemo Penghalang Mobil Ratu

    Fajar Nugraha - 16 Oktober 2020 05:58 WIB
    Thailand Keluarkan Perintah Tangkap Pedemo Penghalang Mobil Ratu
    Protes warga Thailand menuntut reformasi pemerintah dan monarki. Foto: AFP
    Bangkok: Pengadilan Thailand telah menyetujui surat perintah penangkapan untuk dua aktivis yang diyakini menghalangi iring-iringan mobil Ratu Suthida. Kejadian berlangsung ketika pedemo menghalangi mobil Ratu di Jalan Phitsanulok pada Rabu 14 Oktober 2020.

    Baca: Ratusan Pedemo di Thailand Tetap Turun ke Jalan Walau Dilarang.

    Pengadilan Kriminal pada Kamis 15 Oktober menyetujui surat perintah penangkapan untuk aktivis Ekkachai Hongkangwan dan Boonkueanoon Paothong untuk tuduhan serius berdasarkan Pasal 110 KUHP. Pengadilan juga menolak jaminan untuk lima pemimpin demonstrasi.

    Pasangan itu diyakini berada di antara para pengunjuk rasa saat iring-iringan mobil kerajaan yang membawa Ratu dan Pangeran Dipangkorn Rasmijoti lewat. Tidak terungkap apa yang telah mereka lakukan.

    Menurut Pasal 110, siapa pun yang melakukan tindakan kekerasan terhadap kebebasan Ratu akan dihukum dengan penjara seumur hidup, atau penjara 16-20 tahun.

    Pemimpin oposisi Move Forward Party telah membantu para tersangka dan mempertanyakan pernyataan pemerintah tentang keadaan darurat. Mereka mengatakan bahwa demonstrasi itu berlangsung damai.

    Parit ‘Penguin’ Chiwarak, Panusaya ‘Rung’ Sithijirawattanakul, dan Nathchanon Pairoj dibawa dari markas Polisi Patroli Perbatasan Wilayah 1 di Pathum Thani ke pengadilan di tengah pengamanan ketat sekitar pukul 3.00 sore pada Kamis.

    “Sebanyak 21 demonstran ditahan di markas Polisi Patroli Perbatasan Wilayah 1. Semuanya aman dan dirawat dengan baik,” kata pemimpin Move Forward Party, Pita Limjaroenrat, seperti dikutip Bangkok Post, Jumat 16 Oktober 2020.

    Dari 21 demonstran, 18 didakwa melanggar keadaan darurat. Sementara tiga pemimpin -,Parit, Panusaya dan Nathchanon,- didakwa berkolusi dalam penghasutan di bawah Bagian 116 KUHP.

    Dua pemimpin lainnya yakni, Arnon Nampa dan Prasit Khrutharoj juga ditahan selama penindasan atas surat perintah yang belum terselesaikan untuk tuduhan penghasutan yang disetujui oleh Pengadilan Chiang Mai atas peran mereka dalam protes di provinsi utara pada 9 Agustus. Mereka diterbangkan dengan helikopter ke Chiang Mai di mana pengadilan juga menolak jaminan mereka pada hari yang sama. Anon mengeluh bahwa dia telah ditolak haknya untuk mendapatkan pengacara.

    Sementara itu, Letjen Amporn Buarupporn, Komisioner Polda Wilayah 1, mengatakan 23 demonstran ditahan di markas wilayah 1 dan petugas memperlakukan mereka sesuai dengan prinsip hak asasi manusia. Semua demonstran diperiksa kesehatannya oleh dokter.

    (OGI)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id