Demonstran Thailand Serukan Reformasi di Luar Markas Militer

    Willy Haryono - 30 November 2020 12:31 WIB
    Demonstran Thailand Serukan Reformasi di Luar Markas Militer
    Ratusan demonstran berunjuk rasa di jakanan Bangkok, Thailand pada Minggu malam, 29 November 2020. (AFP)
    Bangkok: Aktivis pro-demokrasi kembali turun ke jalanan kota Bangkok dalam menyerukan reformasi menyeluruh di Thailand, termasuk terhadap keluarga kerajaan. Dalam aksi protes kali ini, para aktivis berunjuk rasa di depan markas Resimen Infantri ke-11 di Bangkok pada Minggu, 29 November.

    Sekitar 800 pengunjuk rasa beraksi di sekitar markas militer tersebut, yang diasosiasikan dekat dengan monarki Thailand. Angka demonstran terus bertambah hingga melampaui 1.000 sepanjang hari Minggu.

    Dilansir dari laman TRT World pada Senin, 30 November 2020, sekelompok pengunjuk rasa terlihat mendorong dua bus yang digunakan otoritas Bangkok dalam menghalangi akses menuju markas militer. Mereka juga terlihat menyingkirkan barikade kawat berduri.

    Polisi antihuru-hara dalam jumlah besar bersiaga di depan pintu masuk markas militer. Meski situasi sempat menegang, tidak terjadi bentrokan berarti antara polisi dan demonstran.

    Para aktivis meyakini pihak militer telah merusak demokrasi di Thailand. Mereka juga menilai Raja Maha Vajiralongkorn memiliki terlalu banyak wewenang dan pengaruh di sebuah negara yang menganut sistem monarki konstitusional demokratis.

    Gelombang protes di Thailand yang telah berlangsung selama berbulan-bulan menyerukan reformasi menyeluruh. Para demonstran ingin monarki Thailand tidak bertindak semaunya dan bertanggung jawab terhadap apapun langkah yang diambil.

    Baca:  Revolusi Bebek Karet di Tengah Protes Thailand

    Selama ini, mengkritik monarki Thailand dianggap sebagai tabu, dan komentar yang dianggap menghina keluarga kerajaan dapat berujung pada vonis 15 tahun penjara.

    "Masyarakat seharusnya tetap bisa mengkritik raja. Masyarakat seharusnya bisa memeriksa apa-apa saja yang telah dilakukan raja. Dengan begini, masyarakat akan lebih mencintai raja mereka," kata aktivis Somyot Pruksakasemsuk, yang telah menjalani vonis tujuh tahun penjara atas tuduhan menghina monarki Thailand.

    Selain soal monarki, para pengunjuk rasa juga mendorong adanya amandemen konstitusi serta menginginkan Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dan pemerintahannya untuk segera membubarkan diri.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id