Belanda Sempat Tawarkan Adili Maria Pauline Lumowa

    Fajar Nugraha - 10 Juli 2020 12:46 WIB
    Belanda Sempat Tawarkan Adili Maria Pauline Lumowa
    Buronan pelaku pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa (tengah). Foto: Antara/Aditya Pradana Putra.
    Jakarta: Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan, pemerintah patut diapresiasi atas dihadirkannya Maria Pauline Lumowa. Ini merupakan bentuk upaya menghadapi proses hukum atas tindak kejahatan yang dilakukan di Indonesia pada 2002-2003.

    Baca: Alasan Serbia Ekstradisi Maria Pauline Versi Polisi.

    Apa yang dilakukan oleh pemerintah merupakan konsistensi untuk mengejar para pelaku kejahatan kerah putih kemanapun mereka berada. Terhadap Maria, pemerintah pernah meminta ekstradisi atas dirinya ke pemerintah Belanda.

    “Namun pemerintah Belanda tidak dapat memenuhi permintaan tersebut mengingat Maria sejak tahun 1979 telah menjadi warga negara Belanda,” ujar Hikmahanto dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Jumat 10 Juli 2020.

    “Sistem hukum Belanda tidak memungkinkan warganya sendiri untuk diekstradisi,” ujar akademisi yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

    “Untuk itu pemerintah Belanda menawarkan kepada pemerintah Indonesia untuk mengalihkan proses persidangan di Belanda. Dari perspektif otoritas Indonesia hal ini menyulitkan dan memakan biaya. Sehingga tidak direalisasikan,” jelasnya.

    Satu hal yang perlu dicatat dan juga diapresiasi adalah NCB Interpol Indonesia (Polri) telah memasukkan nama Maria Lumowa dalam red notice. Ini yang memungkinkan otoritas Serbia untuk melakukan penahanan atasnya pada Juli 2019 saat mengunjungi negara tersebut.

    Baca: Ekstradisi Pembobol BNI Sempat Terkendala Pandemi Korona.

    Otoritas di Indonesia pun sigap menindaklanjuti penahanan yang dilakukan oleh otoritas Serbia. Ini semua berujung pada handling over Maria dari otoritas Serbia ke otoritas Indonesia yang dipimpin oleh Menkumham.

    Hingga saat ini meski berbiaya besar dan membutuhkan tenaga, pemerintah telah berhasil untuk menghadirkan pelaku kejahatan kerah putih yang bermukim di negara lain untuk menghadapi proses hukum di Indonesia.

    “Keberhasilan ini tentu harus diikuti dua hal. Pertama, memastikan para pelaku mendapatkan hukuman yang berat. Kedua, memastikan pengembalian aset atas kejahatan yang dilakukan,” tegas Hikmahanto.

    Diketahui, Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.
     
    Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

    Maria tiba di Tanah Air Kamis, 9 Juli 2020. Setelah 17 tahun buron, Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan pelanggaran Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id