Tiga Pendekatan Diplomasi Maritim Indonesia di Natuna

    Willy Haryono - 14 September 2020 14:09 WIB
    Tiga Pendekatan Diplomasi Maritim Indonesia di Natuna
    Sejumlah kapal Bakamla mengikuti sailing pass di Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau. Foto: Ant/M Risyal Hidayat)
    Jakarta: Diplomasi maritim merupakan salah satu pilar dari kebijakan Poros Maritim Dunia yang diterapkan Presiden Joko Widodo sejak 2014. Melalui diplomasi maritim, Indonesia terus melindungi kedaulatan negara di wilayah perairan, termasuk di Laut Natuna Utara.

    Demikian poin utama yang disampaikan dalam acara diskusi buku bertajuk "Diplomasi Maritim Indonesia: Menjaga Kedaulatan di Kepulauan Natuna" yang digelar melalui telekonferensi, Senin 14 September 2020.

    Dr Asep Setiawan, penulis buku Diplomasi Maritim Indonesia, memaparkan adanya tiga bentuk diplomasi maritim yang diterapkan banyak negara kepulauan, termasuk Indonesia.

    "Bentuk diplomasinya bisa tiga, yakni kooperatif, persuasif, dan koersif," kata Asep.

    Indonesia melakukan tiga pendekatan diplomasi tersebut dalam menangani isu-isu di Natuna. Secara kooperatif, Indonesia tidak gegabah dalam menangani kasus pelanggaran nelayan asing di Natuna.

    Menurut Asep, Indonesia selalu melihat gambaran besar dari suatu kasus. Dalam hal pelanggaran oleh nelayan Tiongkok, misalnya, Indonesia mengambil langkah secara hati-hati karena memiliki hubungan bilateral dengan Beijing.

    Namun di waktu bersamaan, Indonesia juga menerapkan pendekatan persuasif. "Biasanya Indonesia mengeluarkan protes verbal, atau merilis dokumen, atau memprotesnya secara multilateral melalui ASEAN," kata Asep.

    Pendekatan persuasif juga dilakukan Indonesia dengan menamakan perairan di Natuna menjadi Laut Natuna Utara. Menurut Asep, karena Tiongkok juga memiliki kepentingan dengan Indonesia, penamaan tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang terlalu mengganggu.

    Ia menyebut Indonesia dan Tiongkok sebenarnya sama-sama mengakui adanya masalah di perairan, namun menahan diri karena ada kerangka bilateral.

    Pemerintah Indonesia juga melakukan pendekatan koersif dalam menangani isu Natuna. Pendekatan ini terlihat saat Presiden Jokowi menaiki kapal perang di Natuna. Kehadiran Presiden Jokowi menjadi pesan bahwa Indonesia tidak main-main dalam urusan Natuna.

    "Ada juga pesan untuk dalam negeri, bahwa walaupun Indonesia bekerja sama dengan Tiongkok, tapi pemerintah tetap tegas," tutur Asep.

    Teuku Faizasyah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, turut mengomentari isu buku Diplomasi Maritim Indonesia. Menurutnya, dalam konteks buku tersebut, Indonesia didorong untuk tidak lalai dalam menjaga kedaulatan negara, termasuk di Natuna Utara.

    "Kita tidak boleh buka ruang sedikit pun kepada pihak-pihak yang mengganggu kedaulatan laut kita," sebut Faizasyah.

    "Penamaan Natuna Utara adalah bagian dari strategi nasional kita. Wilayah di perairan Natuna itu kita tidak menyebutnya lagi sebagai Laut China Selatan, tapi Natuna Utara agar ada rasa kepemilikan yang kuat," sambungnya.

    Faizasyah mengatakan penamaan Natuna Utara ini bukan dapat diterima semua pihak. Namun setidaknya, ucap dia, masyarakat Indonesia dapat semakin menyadari bahwa Natuna adalah bagian dari Tanah Air.

    Mengenai diplomasi maritim, Faizasyah mengatakan bahwa diplomasi hanyalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk menjaga kedaulatan. Ia mendorong pihak-pihak dalam negeri untuk turut berkontribusi dalam memperkuat posisi Indonesia di Natuna.

    "Menko Kemaritiman dan Polhukam mensinergikan kementerian dan lembaga untuk memperkuat Natuna. Ini semua dilakukan untuk meningkatkan kehadiran negara di Natuna," sebut Faizasyah.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id