Wawancara Khusus Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra SiregarI

    Eropa Diskriminasi Sawit, RI Ajukan Gugatan ke WTO

    Marcheilla Ariesta - 22 Maret 2020 15:09 WIB
    Eropa Diskriminasi Sawit, RI Ajukan Gugatan ke WTO
    Kelapa sawit membantu perekonomian Indonesia dan mampu mengurangi angka kemiskinan di kelompok petani. (Foto: AFP)
    Jakarta: Kelapa sawit Indonesia terus mengalami diskriminasi lewat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Uni Eropa. Melihat hal tersebut, Indonesia sudah melayangkan gugatan ke Organisasi Dagang Dunia di bawah PBB (WTO).

    "Kita sudah mengajukan ke WTO gugatan kepada Uni Eropa dalam konteks unit penyelesaian perselisihan di WTO," kata Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dalam wawancara khusus bersama Medcom.id, Jumat 20 Maret 2020.

    Pengajuan gugatan dilakukan karena sawit merupakan salah satu 'tulang punggung' Indonesia untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

    Menurut Mahendra, saat ini gugatan tersebut masih dalam proses di WTO. Proses ini terhenti sementara karena adanya wabah virus korona covid-19 di seluruh dunia yang juga berimbas kepada WTO dan PBB.

    Karenanya, menurut dia proses gugatan akan menjadi lebih panjang dari perkiraan sebelumnya. "Tapi terlepas dari kondisi itu, Indonesia sudah meminta secara resmi ke WTO mengenai pembentukan panel untuk menyelesaikan perselisihan dengan Uni Eropa, mengenai masalah kebijakan Eropa yang kita anggap diskriminasi," terangnya.

    Beberapa waktu lalu, Mahendra menegaskan bahwa dalam berkomitmen mencapai target SDGs, tidak boleh ada diskriminasi terhadap kebijakan pencapaian SDGs negara lain. Pernyataannya tersebut menyinggung kebijakan Uni Eropa yang dirasa terlalu mendiskriminasi sawit Indonesia.

    "Jangan hanya memilih satu atau dua target, lalu kemudian menerapkannya seakan-akan menjadi target global, seperti yang dilakukan dalam kebijakan Uni Eropa yang saya sebut tadi renewable energy directive dengan petunjuk pelaksanaannya yang menurut kami tidak tepat," tutur Mahendra bulan ini.

    Menurut Mahendra, kebijakan tersebut merupakan tantangan besar yang dapat mencegah kedua kubu dalam melakukan hubungan produktif dan konstruktif.

    Mahendra mengatakan, produktivitas sawit Indonesia terbukti sembilan kali lebih tinggi dari minyak nabati lainnya. Selain itu, sambung dia, penggunaan pupuk dan pestisida kelapa sawit Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan minyak canola (rape seed).

    Ia juga sempat menyurati Uni Eropa terkait sawit. Menurut Mahendra, surat tersebut menunjukkan itikad baik Indonesia untuk berunding.

    Indonesia dan UE beberapa tahun terakhir berseteru mengenai kelapa sawit. UE menganggap kelapa sawit Indonesia merusak lingkungan, seperti memicu kebakaran hutan.
     
    Namun, menurut Indonesia, kelapa sawit membantu perekonomian Indonesia, dan bahkan mampu mengurangi angka kemiskinan para petani sawit.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id