Indonesia Harus Siap Tanggung Risiko Jadi Tempat KTT ASEAN untuk Myanmar

    Marcheilla Ariesta - 19 April 2021 16:06 WIB
    Indonesia Harus Siap Tanggung Risiko Jadi Tempat KTT ASEAN untuk Myanmar
    Pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing (AFP)



    Jakarta: Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, rencananya akan hadir dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN (KTT ASEAN) di Jakarta. Sebagai tuan rumah Sekretariat ASEAN, Indonesia pastinya akan menjadi bulan-bulanan karena menerima pemimpin militer Myanmar hadir dalam pertemuan tersebut.

    Pengamat internasional Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menuturkan hal tersebut sudah menjadi risiko Indonesia sebagai tuan rumah Sekretariat ASEAN.






    "Jika kita (Indonesia) mendapat protes dari masyarakat Myanmar, negara lain di dunia, atau mungkin orang nyeleneh di dalam negeri, itu risiko kita," kata Rezasyah kepada Medcom.id, Senin, 19 April 2021.

    Ia mengatakan, hal tersebut wajar saja terjadi. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang menjadi tuan rumah Markas Besar PBB di New York.

    Rezasyah menambahkan, Indonesia harus siap akan hal tersebut. Meski demikian, menurut dia, masyarakat digolongkan dalam dua hal, emosional dan rasional.

    "Jika dia rasional, pastilah dia sudah mengerti bahwa gedung Sekretariat ASEAN yang digunakan dalam pertemuan tersebut berada di Jakarta," imbuhnya.

    Ia menegaskan Indonesia hanya menjadi fasilitator. Namun, pemimpin pertemuan tetap Brunei Darussalam sebagai ketua ASEAN tahun ini.

    "Tugas Indonesia adalah menjaga agar para delegasi bisa tiba dengan selamat di Jakarta, melakukan pertemuan dengan tenang, hingga mereka bisa kembali ke negaranya masing-masing," ungkap Rezasyah.

    Baca:  ASEAN Siap Bantu Myanmar Cari Solusi Damai

    KBRI Yangon Diprotes

    Saat melakukan shuttle diplomacy, Indonesia mendapatkan beragam kecaman dan protes. Bahkan, KBRI Yangon digeruduk massa pro-demokrasi Myanmar.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah kala itu menjelaskan demonstrasi yang berlangsung di depan KBRI Yangon terjadi akibat salah paham yang dipicu pemberitaan yang seolah-olah menyebutkan bahwa Indonesia tengah mencari dukungan negara ASEAN lain untuk mendorong Myanmar menggelar pemilu baru.

    Pemberitaan itu pertama kali muncul dari kantor berita Reuters. Mengutip dokumen dan sejumlah sumber diplomat, media itu menyebutkan bahwa Indonesia tengah mencari dukungan negara ASEAN lain untuk mendorong Myanmar menggelar pemilu.

    Dalam artikel itu, Indonesia menganggap membiarkan junta militer Myanmar berkuasa sampai pemilu digelar demi menggiring negara itu kembali ke jalur demokrasi, salah satunya dengan memiliki pemerintahan perwakilan.

    Faizasyah membantah laporan tersebut.

    "Itu sama sekali bukan posisi Indonesia. Saat ini, Menlu Retno memang tengah melakukan kunjungan ke beberapa negara ASEAN dan terus melakukan konsultasi dengan para mitranya untuk mengumpulkan pandangan," kata Faizasyah kala itu.

    "Jadi apa yang dituliskan sebagai plan of action, pada kesempatan kali ini saya secara tegas membantah adanya plan of action, karena faktanya adalah saat ini adalah kesempatan Menlu (RI) untuk menyamakan persepsi dan mengumpulkan pandangan dari Menlu asean lainnya sebelum pertemuan special menlu se-ASEAN dilakukan," tegasnya.

    Setelah protes terjadi, Menlu Retno mengadakan pertemuan dengan delegasi Myanmar di Bangkok, Thailand.

    Dalam pertemuan itu, delegasi Myanmar yang dipimpin Menlu U Wunna Maung Lwin membahas beberapa persoalan terkait kudeta yang dilakukan pihak militer di negeri Seribu Pagoda itu. Selain itu pertemuan itu juga disaksikan oleh Menlu Thailand Don Pramudwinai.

    Menlu Retno menekankan bahwa Indonesia akan tetap berpedoman pada kesejahteraan dan keinginan rakyat Myanmar dalam memandang situasi politik di negara itu.


    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id