Sama-Sama Khawatir, RI-Inggris Minta Junta Myanmar Hentikan Kekerasan

    Willy Haryono - 07 April 2021 10:54 WIB
    Sama-Sama Khawatir, RI-Inggris Minta Junta Myanmar Hentikan Kekerasan
    Polisi berdiri di samping barikade terbakar di kota Yangon, Myanmar pada 1 April 2021. (STR / AFP)



    Jakarta: Demonstrasi menentang kudeta di Myanmar terus berlangsung, dan junta militer juga masih menggunakan aksi kekerasan dalam meresponsnya. Sejauh ini, berdasarkan laporan dari beberapa sumber, 570 demonstran anti-kudeta telah tewas di tangan pasukan keamanan Myanmar.

    "Untuk isu Myanmar, kami sama-sama khawatir. Kami terus menyerukan militer Myanmar untuk berhenti menggunakan kekerasan terhadap warga sipil," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers bersama Menlu Inggris Dominic Raab di Jakarta pada Rabu, 7 April 2021.






    "Kami juga menyerukan militer Myanmar untuk menciptakan situasi kondusif untuk menggelar dialog agar Myanmar kembali ke jalur demokrasi," sambung keduanya.

    Menlu Retno juga meminta Inggris agar dapat mendukung upaya ASEAN dalam membantu Myanmar menyelesaikan situasi pelik saat ini. Merespons Menlu Retno, Menlu Raab menegaskan komitmen untuk terus bekerja sama dengan Indonesia dalam berbagai isu, termasuk dalam menghadapi situasi di Myanmar.

    Awal April lalu, Menlu Raab telah mengumumkan tambahan sanksi kepada junta Myanmar yang ditujukan kepada Korporasi Ekonomi Myanmar (MEC) yang terkait dengan militer di negara tersebut.

    Melalui keterangan di situs gov.uk, Menlu Raab mengatakan bahwa "militer Myanmar telah membunuh begitu banyak warga sipil tak berdosa, termasuk anak-anak."

    "Aksi terbaru Inggris dilayangkan kepada salah satu aliran pendanaan utama militer atas pelanggaran hak asasi manusia yang mereka lakukan," sambungnya.

    Belakangan, demonstran di Myanmar mulai melakukan aksi pembangkangan mereka terhadap junta Myanmar secara daring. Mereka menjual barang bekas secara daring, yang hasilnya nanti akan disalurkan ke pemerintah bayangan, Komite Perwakilan Pyidaungsu Hluttaw (CRPH), dalam upaya menentang kudeta.
     
    Segala macam barang yang dijual mulai dari pakaian dan mainan, hingga pelajaran musik dan kegiatan luar ruangan dijajakan. Warga asing yang mendukung gerakan ini didorong untuk menyumbang.

    Penggalangan dana juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik agar menentang junta militer Myanmar yang telah menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi.

    Baca:  570 Pedemo Tewas, Warga Myanmar Kini Memberontak Secara Daring

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id