Indonesia Kutuk Serangan Bom di Sekolah Afghanistan

    Marcheilla Ariesta - 10 Mei 2021 01:30 WIB
    Indonesia Kutuk Serangan Bom di Sekolah Afghanistan
    Korban ledakan di Afghanistan/AFP Photo/Wakil Kohsar



    Jakarta: Indonesia mengutuk serangan bom di luar sebuah sekolah di Kabul, Afghanistan. Hingga saat ini, dilaporkan 58 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

    "Indonesia mengutuk serangan brutal yang menyasar Sekolah Sayed Ul-Shuhada, Afghanistan, yang telah menyebabkan puluhan korban jiwa dan ratusan luka-luka termasuk murid perempuan yang tidak berdosa," kata Kementerian Luar Negeri RI lewat akun Twitter mereka, Minggu, 9 Mei 2021.

     



    Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan seluruh rakyat Afghanistan atas insiden ini.

    "Indonesia akan terus mendukung upaya memerangi terorisme dan mewujudkan perdamaian yang lestari di Afghanistan," kata Kemenlu RI.

    Dilansir dari Gulf News, saksi mata mengatakan mayoritas korban adalah siswi yang baru pulang sekolah. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menuduh Taliban berada di balik ledakan tersebut.
     
    Baca: Korban Ledakan Dekat Sekolah Menengah Afghanistan Jadi 30 Orang

    Ledakan terjadi beberapa kali. Pertama datang dari kendaraan yang berisi bahan peledak, disusul ledakan lainnya.  

    Serangan itu menargetkan etnis Hazara Afghanistan yang mendominasi wilayah Dasht-e-Barchi barat. Mayoritas etnis Hazara adalah Muslim Syiah.
     
    Penduduk setempat mengatakan ledakan tersebut terdengar begitu kencang. Naser Ragimi, seorang warga, mengaku mendengar tiga ledakan terpisah. Menurutnya, jumlah korban jiwa bisa saja bertambah.
     
    Salah satu siswa yang berhasil selamat dari ledakan mengaku sempat mendengar jeritan teman-temannya. Ia juga melihat ada begitu banyak darah di lokasi kejadian.

    Serangan terjadi sepekan setelah pasukan Amerika Serikat dan NATO yang tersisa mulai keluar dari Afghanistan. AS berencana menyelesaikan penarikan pasukan pada 11 September, yang akan menandai berakhirnya perang terpanjang di Amerika.
     
    Namun, penarikan pasukan asing menyebabkan gelombang pertempuran antara pasukan keamanan Afghanistan dan kelompok Taliban. Kedua pihak berusaha untuk memegang kendali atas pusat-pusat strategis sebelum proses penarikan pasukan berakhir.

    Kelompok militan Taliban membantah terlibat dalam serangan, dan menduga Islamic State (ISIS) sebagai dalang di balik ledakan di Kabul.


    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id