Tiga Pengungsi Rohingya Meninggal di Aceh

    Marcheilla Ariesta - 12 September 2020 18:54 WIB
    Tiga Pengungsi Rohingya Meninggal di Aceh
    Pengungsi Rohingya di Aceh. Foto: AFP.
    Jakarta: Indonesia kembali menerima 296 pengungsi etnis Rohingya pada 7 September lalu di Lhokseumawe, Aceh. Namun, dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal akibat sakit.

    "Pada tanggal 7 September 2020, sekitar pukul 01.00 dini hari, Indonesia telah menerima kembali kedatangan 296 migran etnis Rohingya di Gampong Ujong Blang, Kota Lhokseumawe," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam jumpa pers virtual, Sabtu, 12 September 2020.

    "Lebih lanjut, kami juga memperoleh laporan bahwa terdapat tiga orang pengungsi yang meninggal dunia," imbuhnya.

    Retno mengatakan, diduga para pengungsi tersebut menderita kelelahan, penyakit beri-beri, dan kondisi tubuh yang melemah akibat perjalanan laut yang cukup lama.

    Ketiga pengungsi itu meninggal ketika tiba di Indonesia. Ketiganya sudah melakukan uji usap dan hasilnya negatif virus korona (covid-19).

    Baca juga: Seorang Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe Meninggal

    Para pengungsi yang lainnya juga sudah melakukan uji cepat virus korona (rapid test) dan hasilnya negatif. Para pengungsi ini terdiri dari 105 orang laki-laki, dan 191 orang perempuan - 183 diantaranya di bawah 18 tahun.

    Dari pendataan awal, mereka berasal dari kamp di Cox's Bazaar, Bangladesh. Sebanyak 119 orang mengaku telah memiliki status pengungsi dari Lembaga Pengungsi PBB (UNHCR).

    Saat ini, kata Retno, UNHCR Indonesia tengah melakukan registrasi dan verifikasi terhadap para pengungsi tersebut bekerja sama dengan UNHCR Bangladesh. Para pengungsi etnis Rohingya tersebut ditampung di BLK Meunasah, Lhokseumawe.

    Myanmar Rumah Rohingya

    Retno menuturkan, isu pengungsi Rohingya selalu dibawa dalam Pertemuan Tingkat Menlu ASEAN (AMM) yang berlangsung hingga hari ini. Retno mengatakan, Indonesia memutuskan untuk menampung sementara para pengungsi atas dasar kemanusiaan.

    Meski demikian, ia menekankan kembali kepada Pemerintah Myanmar untuk dapat menyelesaikan permasalah ini dari akarnya. Ia mendesak perlunya upaya konkret untuk untuk melakukan repatriasi yang aman, sukarela, bermartabat, dan berkelanjutan ke tempat asal mereka, di Negara Bagian Rakhine.

    "Karena rumah mereka adalah di Myanmar," tegas Retno.

    Retno juga mendesak perlunya berbagi tanggung jawab antara negara-negara penandatangan Konvensi Pengungsi 1951, organisasi internasional, dan Lembaga Swadaya Masyarakat untuk berkontribusi nyata terhadap isu pengungsi tersebut.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id