Aung San Suu Kyi Kembali Dijatuhi Tuntutan Pidana Baru

    Marcheilla Ariesta - 12 April 2021 18:11 WIB
    Aung San Suu Kyi Kembali Dijatuhi Tuntutan Pidana Baru
    Aung San Suu Kyi hingga saat ini masih ditahan oleh pihak militer Myanmar. Foto: AFP



    Yangon: Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi kembali menghadapi tuntutan pidana baru hari ini, Senin, 12 April 2021. Pemimpin yang digulingkan militer itu hingga kini belum terlihat didepan publik.

    "Amay (Ibu) Suu didakwa lagi berdasarkan Pasal 25 Undang-Undang Pengelolaan Bencana Alam," kata pengacara Suu Kyi, Min Min Soe kepada AFP usai persidangan.






    "Hingga saat ini, ia telah didakwa dalam enam kasus secara keseluruhan, dengan lima dakwaan di Naypyidaw dan satu di Yangon," imbuhnya.

    Tuduhan paling serius yang dihadapi Suu Kyi berada di bawah undang-undang rahasia resmi Myanmar.

    Min Min Soe mengatakan peraih nobel perdamaian itu tampak dalam keadaan sehat. Namun, ia tidak tahu jika Suu Kyi mengetahui mengenai kekacauan yang terjadi selama dua bulan terakhir di Myanmar.

    Protes hampir setiap hari menuntut pembebasannya dan pemulihan demokrasi ditanggapi dengan peluru karet, peluru tajam dan bahkan granat oleh pasukan keamanan. Lebih dari 700 warga sipil telah tewas dalam waktu hanya 70 hari sejak kudeta, menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

    Kelompok ini juga mengatakan lebih dari 3.000 orang ditangkap.

    Dalam salah satu hari paling berdarah dalam kerusuhan sejauh ini, pada Jumat lalu, dimana lebih dari 80 pengunjuk rasa dibunuh oleh pasukan keamanan di selatan kota Bago. Menurut saksi mata, mayat bergelimpangan dan diangkut menggunakan truk tentara.

    Tindakan kekerasan ini telah menimbulkan kecaman internasional yang meluas dan seruan untuk menahan diri. Sanksi terhadap angkatan bersenjata Myanmar dan kepentingan bisnis telah dijatuhkan oleh beberapa negara dunia.

    Meski demikian, junta tidak berhenti. Sementara itu, ASEAN, organisasi kawasan yang diikuti Myanmar, akan membahas kekerasan tersebut dalam pertemuan darurat tingkat tinggi yang akan dilaksanakan bulan ini di Jakarta, Indonesia.
     
    Sementara Wakil Duta Besar Prancis untuk PBB menyebutkan bahwa pertemuan para pemimpin ASEAN itu akan berlangsung pada 20 April.

    "Kami menunggu kesimpulan dari pertemuan darurat yang diumumkan pada 20 April," pungkas Nathalie Broadhurst, pada pertemuan Dewan Keamanan PBB.


    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id