Kerap Kejar Ambulans, Jurnalis Dilarang Liput Zona Merah Covid-19 Kamboja

    Fajar Nugraha - 05 Mei 2021 11:02 WIB
    Kerap Kejar Ambulans, Jurnalis Dilarang Liput Zona Merah Covid-19 Kamboja
    Warga Kamboja diatur untuk mendapatkan vaksin covid-19. Foto: AFP



    Phnom Penh: Kamboja pada Selasa 4 Mei memerintahkan wartawan untuk berhenti melaporkan dari ‘zona merah’ virus korona yang diblokir. Wartawan juga diminta untuk berhenti mengejar ambulans saat negara itu berjuang melawan rekor lonjakan infeksi.

    Negara ini telah menyaksikan lonjakan kasus covid-19 sejak Februari, ketika wabah pertama kali terdeteksi di antara komunitas ekspatriat Tiongkok.






    Pada Selasa, para pejabat mengumumkan rekor 938 infeksi baru, sehingga total kasus menjadi 16.299 dengan 107 kematian.

    Pihak berwenang telah mengubah sekolah dan aula pesta pernikahan menjadi pusat perawatan covid-19 karena rumah sakit kehabisan tempat tidur. Perdana Menteri Hun Sen memperingatkan negara itu "di ambang kematian" akibat wabah virus.

    Phnom Penh dan kota yang berdekatan, Ta Khmau, telah diisolasi selama 20 hari dan pemerintah mengumumkan selimut akan berakhir mulai Kamis. Tetapi pihak berwenang mengatakan daerah dengan tingkat infeksi tinggi akan tetap dikunci.

    Polisi telah menyiapkan blokade di sekitar zona merah yang melarang penduduk meninggalkan rumah mereka, kecuali karena alasan medis.

    Pada Selasa, kementerian informasi memerintahkan wartawan untuk segera menghentikan pelaporan dari zona merah, memperingatkan mereka akan menghadapi tuntutan.

    “Beberapa jurnalis telah melaporkan dari zona merah dan area terlarang seperti pusat perawatan dan rumah sakit. Mereka juga ada yang mengejar ambulans dan menyebabkan kebingungan serta keresahan,” ungkap pihak kementerian, seperti dikutip AFP, Rabu 5 Mei 2021.

    Perintah itu muncul ketika penduduk yang tinggal di zona merah mengeluh tentang kekurangan makanan dan turun ke media sosial untuk meminta bantuan penting.

    Kelompok hak asasi manusia Amnesty International mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakan penguncian Kamboja pekan lalu. Menurut Amnesty, pemerintah telah membuat banyak orang kelaparan dan kelompok kemanusiaan dilarang mendistribusikan makanan dan bantuan penting lainnya.

    "Kesalahan penanganan pemerintah Kamboja yang keterlaluan terhadap penguncian covid-19 ini menyebabkan penderitaan yang tak terhitung dan meluasnya pelanggaran hak asasi manusia di seluruh negeri," kata Yamini Mishra, Direktur Regional Asia-Pasifik Amnesty International.

    "Saat ini, penduduk 'zona merah' dan lainnya di Kamboja kelaparan karena kebijakan yang pada dasarnya tidak masuk akal,” ujar Mishra.

    Pihak berwenang Kamboja telah meminta penduduk di zona merah untuk mengajukan bantuan makanan dan mengatakan mereka membagikan beras dan ikan kaleng kepada puluhan ribu rumah tangga setiap hari.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id