Menlu AS Sebut Tiongkok Sebagai Ancaman Bagi Kebebasan Beragama

    Fajar Nugraha - 29 Oktober 2020 23:34 WIB
    Menlu AS Sebut Tiongkok Sebagai Ancaman Bagi Kebebasan Beragama
    Menlu AS Mike Pompeo dalam sebuah dialog antar agama yang diselenggarakan GP Ansor. Foto: YouTube GP Ansor
    Jakarta: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menjadi pembicara dalam diskusi yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor, pada Kamis 29 Oktober 2020. Pada kesempatan ini, Pompeo menyebut Tiongkok sebagai negara yang melawan semua agama.

    Berbicara pada dialog bertema ‘Nurturing the shared civilizational aspirations of Islam Rahmatan li al-‘Alamin’ yang diadakan GP Ansor, Menlu Pompeo menilai pentingnya peran organisasi seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang menjaga toleransi demi menjadi demokrasi.

    Pompeo memberikan contoh di mana menurutnya Pemerintah Iran menindas umat Kristen Bahá’is, Muslim Sunni dan kelompok minoritas lainnya. Namun para mitra diplomasi Iran menurut Pompeo gagal menggalang kecaman.

    “Namun sebenarnya ancaman terbesar bagi masa depan kebebasan beragama adalah Partai Komunis Tiongkok yang melancarkan perang kepada semua umat beragama. Mulai dari Muslim, Budha, Kristen dan praktisi Falun Gong merasakan hal yang sama,” ujar Pompeo dalam pidatonya di Jakarta, Kamis 29 Oktober 2020.

    “Partai Komunis Tiongkok yang Atheis telah mencoba meyakinkan dunia bahwa sistem kerja paksa dari Muslim uighur dan Xinjiang diperlukan sebagai bagian dari upaya kontraterorisme atau pengentasan kemiskinan. Ini tergantung pada audiens mana mereka berbicara,” jelas Pompeo.

    “Tidak ada pembenaran kontraterorisme untuk memaksa Muslim Uighur makan daging babi selama Ramadan atau menghancurkan Pemakaman Muslim. Tidak ada pembenaran pengentasan kemiskinan untuk sterilisasi paksa. Mereka mengambil anak-anak dari orangtua mereka untuk dididik ulang, dididik kembali di sekolah berasrama yang dikelola negara,” ucapnya.

    Lebih lanjut Pompeo mengatakan bahwa sesama umat Muslim di Xinjiang saat ini tengah menderita. Menurutnya Partai Komunis Tiongkok rela mengeluarkan dana besar untuk menyebarkan kisah warga Uighur yang bahagia.

    Kemudian Pompeo melanjutkan bahwa saat ini ada puluhan atau bahkan ratusan laporan akademis dan penelitian yang kredibel yang mendokumentasikan apa yang terjadi di Xinjiang. Dirinya menyebutkan memiliki kesempatan untuk mendengar kisah penderitaan manusia yang luar biasa secara langsung ketika bertemu penyintas Xinjiang di Kazakhstan.

    Pertemuan dengan para penyintas membuat Pompeo terharu dan sekaligus marah. Pertemuan itu menggarisbawahi betapa berharganya kebebasan yang diberikan Tuhan dan tanggung jawab kepada kita masing-masing harus mempertahankannya dan memang Iman saya mengajarkan hal yang sama bahwa manusia memiliki martabat dasar karena diciptakan oleh Tuhan,” imbuh Pompeo.

    “Saya yakin bagaimana tradisi Islam dan tradisi Indonesia menuntut kita untuk bersuara dan mengupayakan keadilan,” tegasnya.

    Pompeo pun mengingatkan bahwa demokrasi memiliki warisan budaya yang sangat berbeda, tetapi terlepas dari itu Indonesia dan Amerika Serikat memiliki banyak kesamaan.

    Kepada GP Ansor, Pompeo berharap bisa melahirkan calon-calon pemimpin baru Indonesia yang menjunjung tinggi demokrasi.

    “Seperti halnya para pemimpin-pemimpin terdahulu yang mendapatkan tempat yang dihormati dan menjadi simbol demokrasi Indonesia,” pungkas Pompeo.


    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id