Presiden Brasil Ingin Penjahat Ditembak Mati di Jalan

    Arpan Rahman - 07 Agustus 2019 07:46 WIB
    Presiden Brasil Ingin Penjahat Ditembak Mati di Jalan
    Presiden Jair Bolsonaro inginkan penjahat ditembak mati di jalan. Foto: AFP.
    Rio de Janeiro: Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengaku berharap para penjahat akan mati di jalan-jalan seperti kecoak. Itu muatan undang-undang garis keras yang ia usulkan demi melindungi pasukan keamanan dan warga yang menembak para terduga penjahat dari penuntutan.

    Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada Senin, Bolsonaro mengatakan ia berharap Kongres akan menyetujui rencananya yang kontroversial. Ia hendak memperluas apa yang disebut 'excludente de ilicitude' -- sebuah pasal dalam UU kriminal Brasil yang membuat beberapa tindakan ilegal diizinkan.

    Para aktivis khawatir hal itu dapat menyebabkan pertumpahan darah. Tetapi Bolsonaro mengklaim akan memberi ‘perlindungan hukum’ yang sangat dibutuhkan bagi petugas polisi yang memakai kekuatan mematikan dalam menjalankan tugas. Hasilnya akan membawa penurunan dramatis dalam kekerasan.

    "Orang-orang ini (penjahat) akan mati di jalanan seperti kecoak (jika perlindungan seperti itu disetujui) - dan memang harus begitu," katanya, disitat dari Guardian, Selasa 6 Agustus 2019.

    Bolsonaro berargumen bahwa polisi Brasil sedang berperang 'melawan hukum' menghadapi kejahatan dan harus dilindungi karena menggunakan senjata mereka, tidak dibawa ke pengadilan.

    "Warga negara terhormat juga pantas dilindungi jika mereka perlu menggunakan kekuatan mematikan buat melindungi kehidupan atau properti mereka," tegasnya.

    Pernyataan itu disambut oleh para pendukung, tetapi memicu kemarahan di antara para aktivis dan oposisi. "Ini adalah komentar menjijikkan," kata Ariel de Castro Alves, seorang aktivis veteran dan pengacara veteran di Sao Paulo.

    Alves mengklaim wacana Bolsonaro yang tidak jujur dan tidak manusiawi telah menyebabkan lonjakan kekerasan polisi yang mematikan. Sebagian besar terhadap kaum miskin, muda, lelaki kulit hitam -- dan khawatir undang-undang yang direncanakan akan membuat segalanya menjadi lebih buruk.

    "Kami telah melakukan 414 pembunuhan yang dilakukan oleh polisi militer di Sao Paulo (pada paruh pertama tahun 2019) -- itu adalah angka tertinggi sejak 2003. Ia mendorong kekerasan polisi dan akhirnya menjadi semacam penghasut kebrutalan," kata Alves.

    Robert Muggah, kepala lembaga penelitian Brasil di Institut Igarape, mengatakan telah terjadi lonjakan serupa dalam pembunuhan di Rio de Janeiro di mana polisi menembak 434 orang dalam tiga bulan pertama 2019.

    "Ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat dalam lebih dari dua dekade," kata Muggah.

    Dalam enam bulan pertama tahun ini, polisi Rio dilaporkan membunuh 881 orang -- atau satu orang setiap lima jam.

    "Kekhawatiran kami adalah bahwa retorika semacam ini dapat mendorong polisi untuk mengerahkan kekuatan yang lebih besar dan dapat mengakibatkan, pada kenyataannya, lebih banyak kekerasan polisi daripada yang terjadi saat ini," tambah Muggah.

    "Ini jelas merupakan keprihatinan di negara yang sudah mencatat jumlah absolut tertinggi dari kekerasan mematikan dan beberapa tingkat pembunuhan polisi tertinggi di dunia," serunya.

    Tahun lalu, polisi Brasil menewaskan hampir 6.200 orang dibandingkan dengan 5.225 pada tahun 2017, angka resmi menunjukkan.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id