Mantan Dubes AS Pernah Diminta Hambat Pergerakan Trump

    Willy Haryono - 11 November 2019 12:27 WIB
    Mantan Dubes AS Pernah Diminta Hambat Pergerakan Trump
    Presiden AS Donald Trump (kiri) mendengarkan keterangan Nikki Haley di PBB, New York, 26 September 2018. (Foto: AFP/NICHOLAS KAMM)
    Washington: Nikki Haley, mantan duta besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengaku pernah diminta dua pejabat tinggi Gedung Putih untuk menghambat pergerakan Presiden Donald Trump.

    Dalam buku terbarunya, Haley menuliskan bahwa mantan Kepala Staf John Kelly dan mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson pernah memintanya untuk tidak menuruti beberapa permintaan Trump.

    Menurut Halley, Kelly dan Tillerson kala itu mengaku "sedang berusaha menyelamatkan negara ini."

    Tillerson belum berkomentar mengenai pernyataan Haley. Sementara Kelly mengatakan dirinya hanya ingin memastikan Trump mendapat informasi menyeluruh sebelum membuat suatu keputusan.

    Haley mengaku telah menolak permintaan Kelly dan Tillerson. Ia merasa keduanya telah melakukan kesalahan karena mencoba melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan presiden.

    "Daripada meminta saya, mengapa mereka tidak langsung saja berbicara dengan presiden," ujar Haley kepada kantor berita CBS, dikutip dari BBC, Senin 11 November 2019.

    "Mereka seharusnya mendatangi presiden dan menceritakan hal-hal apa saja yang dirasa mengganjal. Jika mereka tidak setuju dengan kebijakan presiden, maka sebaiknya berhenti saja, dan bukan malah menghambat pergerakan presiden," lanjut dia.

    Selama berada di bawah pemerintahan Trump, Haley mengaku beberapa kali pernah tidak setuju dengan kebijakan sang presiden. Ia mengaku langsung membicarakannya ke hadapan Trump.

    Ia mengaku pernah tidak setuju mengenai pendekatan Trump saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah konferensi di Helsinki pada 2017.

    Selain itu, Haley juga tidak setuju dengan pernyataan Trump mengenai bentrokan warga dengna kelompok supremasi kulit putih di Charlottesville di tahun yang sama. Kala itu, Trump mengatakan bahwa ada orang baik dari "kedua kubu," yang mengindikasikan bahwa ia juga mendukung kelompok supremasi kulit putih.

    Bagi Haley, pernyataan tersebut "menyakitkan dan juga berbahaya." Heather Heyer, seorang demonstran yang menentang kelompok supremasi kulit putih, tewas dalam bentrokan di Charlottesville.

    Untuk beberapa kebijakan Trump, Haley mengaku mendukungnya. Beberapa kebijakan itu di antaranya penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran dan kesepakatan iklim Paris.

    Mengenai perkembangan situasi terbaru di AS, Haley mengecam upaya pemakzulan yang dimotori Partai Demokrat. Ia menilai pemakzulan dapat disebut "seperti sebuah hukuman mati bagi pejabat publik."



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id