Nikaragua Pakai Senjata untuk Bunuh Para Demonstran

    Arpan Rahman - 19 Oktober 2018 09:52 WIB
    Nikaragua Pakai Senjata untuk Bunuh Para Demonstran
    Pihak keamanan Nikaragua menghadapi kelompok warga yang protes. (Foto: AFP).
    Managua: Senjata peperangan digunakan untuk membunuh dan melukai para pengunjuk rasa anti-pemerintah di Nikaragua. Tindakan itu menjadi bagian dari penindasan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan.
     
    Setidaknya 322 orang tewas dan 2.000 lainnya terluka -- sebagian besar oleh polisi dan kelompok paramiliter pro-pemerintah -- sejak demonstrasi atas reformasi sistem jaminan sosial dimulai pada April.
     
    Para pengunjuk rasa ditangkap secara sewenang-wenang, disiksa, dan setidaknya 300 orang dituntut, banyak dituduh atas terorisme. Setidaknya satu wartawan tewas, dan beberapa wartawan asing dideportasi.
     
    Laporan baru oleh Amnesty, Instilling Terror (Menanamkan Teror), mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan antara 30 Mei dan 18 September 2018 yang diyakini dilakukan dengan izin, dan atas perintah dari otoritas tertinggi di pemerintahan, termasuk Presiden Daniel Ortega, dan istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo.
     
    Ortega pernah dihormati sebagai pemimpin gerilya sayap kiri yang membantu memenangkan revolusi Sandinista. Menurut konstitusi Nikaragua, presiden adalah panglima tertinggi kepolisian nasional, dan Ortega secara langsung mengendalikan pasukan.
     
    Penindasan yang disponsori negara - yang dilakukan dengan nama "Operasi Bersih" -- meliputi operasi terencana baik memakai senjata mematikan kelas militer terhadap warga sipil yang tidak bersenjata. Amnesty mendokumentasikan luasnya penggunaan senapan tipe AK oleh polisi dan regu bersenjata pro-pemerintah, serta senapan penembak jitu, senapan mesin dan bahkan peluncur granat berpeluncur roket portabel termasuk RPG-7 buatan Rusia.
     
    "Sebagian kecil pengunjuk rasa anti-pemerintah menggunakan mortir dan senjata api buatan sendiri. Tetapi penggunaan kekuatan mematikan yang meluas menjadi tidak berimbang dan sebagian besar brutal," menurut Amnesty.
     
    Erika Guevara-Rosas, Direktur Amerika di Amnesty International, mengatakan: "Strategi penindasan yang dilaksanakan oleh pasukan keamanan dan kelompok pro-pemerintah di Nikaragua telah menyebabkan pelanggaran berat HAM di bawah hukum internasional yang harus diselidiki dengan benar. Mereka yang bertanggung jawab harus dibawa ke pengadilan."
     
    "Investigasi internasional tidak hanya harus mengarahkan para pelaku, tetapi juga para pejabat -- terlepas dari posisi pangkat dan politik mereka -- yang memerintahkan, mengizinkan, atau mengetahui tentang pelanggaran namun tidak melakukan apa pun untuk menghentikan," tegasnya, seperti disitir dari Guardian, Jumat, 19 Oktober 2018.
     
    Laporan ini didasarkan pada 115 wawancara yang menemukan enam kemungkinan eksekusi di luar proses hukum. Penyiksaan digunakan pasukan keamanan sebagai hukuman dan untuk memaksa tahanan memberikan keterangan palsu, laporan itu menyimpulkan. Beberapa orang yang diwawancarai Amnesty menunjukkan tanda-tanda luka yang diderita beberapa pekan sebelumnya.
     
    Karena jumlah kematian dan cedera resmi terus meningkat, jumlah korban sebenarnya bisa lebih tinggi lagi. Banyak orang ketakutan untuk melaporkan serangan, bahkan kematian, kepada pihak berwenang karena cemas terjadi pembalasan; investigasi resmi seringkali tidak memadai dan diarahkan untuk mengidentifikasi pemimpin demonstrasi.
     
    Salah satu konsekuensi dari penganiayaan yang meluas adalah relokasi internal dan migrasi paksa dari ribuan orang, terutama ke negara tetangga Costa Rica. Lebih dari 20.000 warga Nikaragua sudah mengajukan permohonan atau sedang menunggu mengajukan suaka sejak tindakan keras itu dimulai enam bulan lalu.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id