Trump Tegaskan Kembali Sumpah Tarik Pasukan dari Afghanistan

    Fajar Nugraha - 05 Februari 2020 13:03 WIB
    Trump Tegaskan Kembali Sumpah Tarik Pasukan dari Afghanistan
    Presiden AS Donald Trump usai pidato kenegaraan di hadapan anggota Senat. Foto: AFP
    Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa waktu setempat menegaskan kembali sumpahnya untuk menegosiasikan penarikan pasukan dari Afghanistan. Trump mengatakan ia tidak ingin untuk membunuh ‘ratusan ribu orang’ dalam pertempuran tanpa akhir.

    Dalam salah satu poin pidato kebijakan luar negerinya, Trump menawarkan restunya untuk negosiasi yang sedang berlangsung dengan militan Taliban.

    "Saya tidak ingin membunuh ratusan ribu orang di Afghanistan, banyak dari mereka benar-benar tidak bersalah," kata Trump pada  pidato kenegaraan di Gedung Capitol Hill, seperti dikutip AFP, Rabu, 5 Februari 2020.

    "Ini juga bukan fungsi kami untuk melayani negara lain sebagai agen penegakan hukum. Mereka adalah pejuang perang, yang terbaik di dunia, dan mereka juga ingin berjuang untuk menang atau tidak bertarung sama sekali," katanya.

    "Kami bekerja untuk akhirnya mengakhiri perang terpanjang Amerika dan membawa pasukan kami kembali ke rumah,” tegas Trump.

    Trump telah lama mempertanyakan kebijaksanaan mengirim pasukan di luar negeri dan menggambarkan perang di Afghanistan yang diluncurkan setelah serangan 11 September 2001 sebagai pengurasan darah dan harta.

    Namun tahun lalu dia tiba-tiba mengatakan bahwa dia telah membatalkan pertemuan puncak yang sebelumnya tidak diumumkan di sebuah rumah peristirahatan kepresidenan Camp David dengan Taliban. Pembatalan terkait karena serangan yang menewaskan seorang Amerika.

    Dia kemudian mengizinkan perunding veteran AS Zalmay Khalilzad untuk melanjutkan perundingan, yang telah berlangsung berbulan-bulan di Qatar.

    Di bawah rancangan kesepakatan, Amerika Serikat akan menarik pasukan, dan Taliban akan berjanji untuk tidak membiarkan ekstrimis menggunakan Afghanistan sebagai pangkalan serta untuk membuka pembicaraan dengan pemerintah yang diakui secara internasional di Kabul.

    Taliban baru-baru ini mengusulkan pengurangan terbatas dalam tindak kekerasan.

    Sedikit fokus asing


    Trump sebelumnya berbicara dengan tegas terhadap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro. Dia bahkan mengundang saingan Maduro, Juan Guaido untuk menonton pidatonya.

    Tetapi pidatonya sebaliknya tidak banyak fokus pada kebijakan luar negeri, tanpa menyebut Korea Utara, setahun setelah Trump mengumumkan pertemuan puncak keduanya dengan pemimpin negara bersenjata nuklir, Kim Jong Un.

    Trump hanya menyebutkan secara singkat rencananya yang pro-Israel untuk Timur Tengah, yang ia ungkapkan minggu lalu di sebelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah lebih dari satu tahun penundaan.

    Di Iran, Trump menyoroti kampanye tekanannya terhadap Negeri Paramulah dan membual tentang serangan kontroversial yang ia pesan bulan lalu yang menewaskan jenderal terkenal Iran, Qassem Soleimani.

    "Karena sanksi kuat kami, ekonomi Iran berkinerja sangat buruk. Kami dapat membantu mereka menjadikannya sangat baik dalam waktu singkat, tetapi mungkin mereka terlalu bangga atau terlalu bodoh untuk meminta bantuan itu,” sebut Trump.

    Trump pada 2018 menarik diri dari kesepakatan nuklir yang didukung secara internasional yang dinegosiasikan di bawah pendahulunya, Barack Obama, dan menjatuhkan sanksi besar-besaran yang bertujuan mengurangi pengaruh regional Iran.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id