AS Selidiki Dugaan Suap Pengampunan Hukuman Oleh Trump

    Marcheilla Ariesta - 02 Desember 2020 23:21 WIB
    AS Selidiki Dugaan Suap Pengampunan Hukuman Oleh Trump
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump. AFP



    Washington: Kementerian Kehakiman Amerika Serikat menyelidiki dugaan suap ke Gedung Putih terkait pengampunan presiden. Kasus ini muncul di hari-hari terakhir masa jabatan Presiden Donald Trump.

    Penyelidikan itu terungkap dalam catatan yang dibuka di Pengadilan Federal. Dokumen setebal 20 halaman itu dipublikasikan Pengadilan Distrik DC, Selasa sore, 1 Desember 2020 waktu setempat.






    Kasus itu terkait pengampunan beberapa penasihat utama Trump yang dihukum atas tuduhan pidana federal. Catatan menunjukkan peninjauan Ketua Hakim Beryl Howell pada Agustus 2020 atas permintaan jaksa penuntut umum.

    "Tidak ada pejabat pemerintah yang saat ini menjadi subjek atau target penyelidikan yang diungkapkan dalam pengajuan," kata seorang pejabat Kementerian Kehakiman dilansir dari CNN, Rabu, 2 Desember 2020.

    Pengadilan menyebut tim penyaring digunakan untuk memastikan jaksa tidak menerima bukti tercemar yang seharusnya disimpan. Sebanyak 50 perangkat digital, termasuk iPhone, iPads, laptop, thum drive, dan drive komputer disita penyidik setelah menggerebek salah satu kantor yang tak disebutkan namanya.

    Jaksa penuntut meminta pengadilan mengizinkan kepemilihan tim penyaring. Jaksa penuntut yakin perangkat tersebut mengungkap surat elektronik (email) yang menunjukkan dugaan aktivitas kriminal, termasuk skema lobi rahasia dan konspirasi penyuapan.

    "Konspirasi penyuapan menawarkan kontribusi politik substansial sebagai imbalan atas pengampunan presiden atau penangguhan hukuman untuk terdakwa yang namanya disunting," demikian dikutip dari dokumen tersebut.

    Pengajuan tersebut menunjukkan pengacara melakukan kontak dengan pejabat Gedung Putih untuk meminta pengampunan presiden atau penangguhan hukuman. Dokumen juga menunjukkan donor kampanye membuat penawaran dengan mengajukan nama orang-orang untuk diberikan grasi.

    Kendati demikian, dokumen tersebut tidak menunjukkan waktu kejadian dan di bagian mana yang tidak dihapus. Tidak ada referensi yang merujuk ke Trump atau kampanye politiknya.

    Trump membantah dokumen tersebut. Ia menyebut kabar kemunculan penyelidikan itu sebagai berita palsu.

    "Penyelidikan (pengampunan) adalah berita palsu!" cuit Trump di akun Twitternya.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id