Penyalahgunaan Kekuasaan Dinilai Tidak Cukup Makzulkan Trump

    Arpan Rahman - 20 Januari 2020 17:02 WIB
    Penyalahgunaan Kekuasaan Dinilai Tidak Cukup Makzulkan Trump
    Pengacara Alan Dershowitz dalam sebuah konferensi pers di Kiev, Ukraina, 11 April 2011. (Foto: AFP/GENYA SAVILOV)
    Washington: Salah satu pengacara Presiden Donald Trump menilai pasal penyalahgunaan wewenang tidak cukup untuk memakzulkan seorang kepala negara di Amerika Serikat. Menurut Alan Dershowitz, presiden baru bisa dimakzulkan jika ia melakukan "tindakan seperti yang dilakukan para kriminal" di luar sana.

    Penyelidikan pemakzulan Trump dipicu laporan seorang pembocor rahasia atau whistleblower, yang mengatakan bahwa sang presiden telah meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk menyelidiki Hunter Biden -- anak dari politikus Partai Demokrat Joe Biden.
     
    Permintaan Trump kepada Zelenskiy dinilai melanggar konstitusi karena ditujukan untuk melemahkan Joe Biden, tokoh terdepan Demokrat untuk bersaing di pemilihan umum AS 2020.

    "Saya akan menentang pemakzulan presiden berdasarkan kriteria konstitusi," kata Dershowitz dalam program State of the Union di media CNN.

    Dershowitz menyinggung mengenai Hakim Benjamin Curtis yang sempat membela Presiden Andrew Johnson dalam sidang pemakzulan di tahun 1868. Kala itu, Curtis juga menggunakan argumen "tindakan seperti yang dilakukan para kriminal" dalam persidangan, dan presiden Johnson berhasil mempertahankan jabatannya.

    Menurutnya Trump sebaiknya tidak dimakzulkan meski perilaku yang ditunjukkan menyimpang. "Jika tuduhannya bukanlah sesuatu yang dapat berujung pemakzulan, maka sebaiknya persidangan ini berakhir dengan pembebasan (Trump di level Senat)," sebut Dershowitz.

    Adam Schiff, tokoh yang memimpin proses penyelidikan pemakzulan Trump, menilai pandangan Dershowitz sebagai sesuatu yang absurd.

    Selain Dershowitz, tokoh lain yang bergabung dalam tim kuasa hukum Trump adalah Ken Starr dan Robert Ray yang pernah menyelidiki Bill Clinton.

    Mantan Jaksa Agung Florida Pam Bondi juga telah diminta untuk bergabung dalam tim Trump. Bondi telah bergabung dengan tim komunikasi Gedung Putih pada November lalu, yang ditugaskan untuk fokus terhadap "pesan pemakzulan secara proaktif."



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id