Puluhan Orang Terancam Buta Akibat Bentrokan di Chile

    Marcheilla Ariesta - 15 November 2019 10:22 WIB
    Puluhan Orang Terancam Buta Akibat Bentrokan di Chile
    Polisi Chile menembakkan peluru karet untuk membubarkan demonstran. (Foto: AFP).
    Santiago: Puluhan orang terancam kebutaan setelah dibombardir tembakan peluru karet oleh polisi dalam bentrokan di Chile. Salah satu yang menjadi korban adalah Carlos Vivanco, pelajar berusia 18 tahun.

    "Mereka ingin membuat saya sakit, malu, menyesal, dan takut," kata Vivanco di rumahnya, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 15 November 2019.

    Vivanco berlari begitu mendengar tembakan, saat dia berbalik untuk melihat peluru berasal dari arah mana, ia merasakan mata kirinya kehilangan penglihatan dan wajahnya berlumuran darah.

    Polisi menembakkan gas air mata, meriam air, dan peluru karet selama protes anti-pemerintah berlangsung di Chile. "Mereka ingin kami takut, tapi malah sebaliknya. Saya lebih memiliki banyak kemarahan daripada rasa sakit, dan banyak kebencian daripada malu," imbuhnya.

    Vivanco ikut protes karena menentang kebijakan ekonomi yang tak adil dan biaya hidup tinggi. Dia menuntut kesetaraan sosial yang merata di negara tersebut.

    Dia berlari menghindari polisi ketika delapan peluru ditembakkan ke tubuhnya. Salah satu peluru mengenai mata kirinya dan hampir membutakan mata kanannya.

    Tak hanya Vivanco, seorang musisi juga terkena peluru nyasar di matanya. Cesar Callozo, 35, mengatakan terkena peluru karet saat bermain musik di Plaza Italia, Santiago.

    "Tiba-tiba saya merasakan sesuatu mengenai mata dan saya ambruk. Rasanya sakit, kemudian saya merasakan wajah ini mati rasa. Saya berdiri dan berteriak bahwa mereka tidak bisa mengalahkan saya," ceritanya.

    Dokter trauma mata, Mauricio Lopez menuturkan, kebutaan tersebut seperti epidemi. Dia awalnya tidak percaya protes besar itu terjadi dalam sejarah Chile.

    Minggu 27 Oktober, ribuan demonstran beramai-ramai mendatangi gedung Kongres di Valparaiso, yang berjarak sekitar 120 kilometer dari ibu kota Santiago. Sedikitnya 17 orang tewas dan ratusan lainnya terluka sejak gelombang protes.

    Unjuk rasa ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di Chile dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah pihak menyandingkan skala protes kali ini dengan demonstrasi di 1988 saat masyarakat Chile menentang kepemimpinan diktator Augusto Pinochet.

    Awalnya, aksi protes dipicu kemarahan pemuda atas naiknya tarif kereta api bawah tanah di Chile. Namun gerakan pemuda tersebut kemudian berubah menjadi aksi protes berskala nasional.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id