FAA Sebut Boeing 737 MAX 8 Layak Terbang

    Arpan Rahman - 12 Maret 2019 15:09 WIB
    FAA Sebut Boeing 737 MAX 8 Layak Terbang
    FAA sebut Boeing 737 MAX 8 layak untuk terbang. (Foto: AFP).
    Washington: Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) menyebutkan keyakinan mereka ihwal keselamatan pesawat jet Boeing jenis 737 MAX 8 yang dipertanyakan.

    FAA mengeluarkan pemberitahuan global tentang ‘kelaikan udara berkelanjutan’ sehari setelah kecelakaan mematikan yang kedua kali dari model itu dalam waktu kurang dari lima bulan.

    Baca juga: Boeing Bersikukuh 737 MAX Tetap Aman.

    "FAA secara berlanjut menilai dan mengawasi kinerja keselamatan pesawat komersial AS," kata FAA dalam surat elektronik yang mengumumkan rencana untuk mengeluarkan pemberitahuan pada pukul 17:00 waktu setempat Senin dari Washington.

    "Jika kami mengidentifikasi ada masalah yang memengaruhi keselamatan, FAA akan mengambil tindakan segera dan sesuai," sambung FAA, seperti dilansir dari laman TIME, Selasa 12 Maret 2019.

    Pernyataan itu memberi sinyal bahwa regulator AS tidak berniat segera untuk melarang terbang 737 MAX 8. Sementara otoritas Tiongkok memerintahkan perusahaan penerbangannya agar menangguhkan penggunaan pesawat tersebut setelah kecelakaan Minggu yang menewaskan 157 orang di dekat Addis Ababa, Ethiopia. Bencana itu terjadi setelah kecelakaan pada Oktober di mana Lion Air 737 Max jatuh ke laut lepas pantai Indonesia.

    Saham Boeing merosot 5,3 persen menjadi USD400,01 pada penutupan di New York, penurunan terbesar sejak 29 Oktober, di hari jatuhnya Lion Air.

    Sangat peduli 

    Rincian perihal apa yang akan dinamakan ‘Pemberitahuan Kelaikan Udara Berlanjut ke Komunitas Internasional’ (CANIC) tidak tersedia. Yang disebut CANIC adalah bagaimana FAA berkomunikasi tentang masalah keselamatan dengan regulator penerbangan lainnya di seluruh dunia.

    Menyusul kecelakaan yang melibatkan model pesawat bersertifikasi baru, penyelidik dan regulator memberi perhatian khusus jika terjadi masalah keselamatan yang tidak diketahui. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB), yang merupakan agen utama AS di bawah perjanjian PBB, mengirim tim terdiri empat penyelidik dan mereka bergabung dengan mitra dari Boeing dan FAA.

    "Kami jelas sangat prihatin dengan apa yang terjadi dan kami memantau situasi dengan sangat hati-hati karena keselamatan adalah prioritas nomor satu kami," kata Menteri Perhubungan AS Elaine Chao pada konferensi Senin dengan wartawan tentang permintaan anggaran departemen.

    Takut terbang

    Armada angkutan AS seperti Southwest Airlines Co, American Airlines Group Inc., dan United Continental Holdings Inc. tetap menerbangkan 737 MAX. Tetapi beberapa serikat buruh menyatakan was-was.

    "Kami memang memiliki beberapa pramugari yang menunjukkan mereka takut untuk terbang dengan 737 Max," kata Lori Bassani, presiden Asosiasi Petugas Penerbangan Profesional, yang mewakili karyawan di Amerika. Sejauh ini tidak ada petugas yang menolak untuk terbang di pesawat.

    Baca juga: Tragedi Ethiopia, Tiongkok Tangguhkan Boeing 737 Max 8.

    Lebih dari 100 pesawat Boeing telah dilarang terbang di luar AS, sekitar sepertiga dari armada Max global. Perusahaan berbasis di Chicago ini dijadwalkan untuk mengirimkan 558 unit dari model Max 8 selama 12 bulan ke depan, menurut Ron Epstein, seorang analis di Bank of America Corp.

    AS hanya melarang terbang seluruh model pesawat dua kali dalam 40 tahun terakhir. Paling baru pada Januari 2013 setelah dua baterai lithium-ion terbakar pada model Boeing 787 Dreamliner. Agensi hanya bertindak setelah insiden terjadi kedua kali.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id