Situasi Bolivia Berangsur Normal

    Willy Haryono - 26 November 2019 08:20 WIB
    Situasi Bolivia Berangsur Normal
    Warga beraktivitas di dekat sebuah bank di La Paz, Bolivia, 25 November 2019. (Foto: AFP/AIZAR RALDESAIZAR RALDES)
    La Paz: Situasi di Bolivia berangsur normal pada Senin 25 November 2019, yang terlihat dari dibukanya kembali hampir semua sekolah dan pertokoan setelah sempat ditutup selama berlangsungnya unjuk rasa.

    Arus lalu lintas di La Paz ramai seperti biasa, setelah beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum kembali beroperasi. Saat gelombang protes, La Paz adalah episenter dari pergerakan massa.

    Selain sekolah dan pertokoan, sebagian besar supermarket dan juga restoran kembali beroperasi seperti biasa.

    "Sekarang situasi sudah kembali normal setelah kita semua melewati peristiwa yang sangat dramatis," kata Presiden interim Bolivia Jeanine Anez kepada awak media, dikutip dari AFP. Pernyataan disampaikan Anez satu hari usai dirinya menandatangani rancangan undang-undang yang memungkinkan terjadinya pemilihan umum baru.

    Gelombang protes di Bolivia bulan lalu dipicu tuduhan oposisi terhadap Evo Morales yang dinilai berbuat curang dalam pemilihan umum. Morales pun akhirnya mengundurkan diri di tengah tekanan massa, dan kemudian pergi ke Meksiko usai mendapat suaka.

    Setelah kepergian Morales, Anez mendeklarasikan diri sebagai presiden interim. Anez kemudian berjanji akan segera menggelar pemilu untuk memulihkan stabilitas di Bolivia.

    Jazmin Chavez, seorang ibu rumah tangga, mengaku senang karena anak-anaknya kini bisa kembali bersekolah setelah hanya berdiam diri di kamar selama hampir satu bulan.

    "Mereka senang bisa kembali bersekolah dan bertemu teman-teman," ucap Chavez.

    Blokade di sejumlah jalan raya utama telah disingkirkan otoritas Bolivia, kecuali di area Chapare yang mayoritas warganya adalah petani daun koka. Morales adalah mantan petani daun koka, yang juga merupakan presiden pertama Bolivia dari etnis pribumi.

    Aksi blokade dilakukan sejumlah petani koka dalam memprotes tindakan keras aparat keamanan terhadap demonstran. Mereka meminta agar pemerintahan Anez mengadili pihak yang telah membunuh sembilan pengunjuk rasa dalam aksi protes pada 15 November.

    "Masih ada blokade di beberapa ruas jalan," sebut Franz Celis, seorang wakil komandan kepolisian di Cochabamba.

    Dialog antara pemerintahan Anez dan kubu oposisi masih berlanjut di Laz Paz. Tujuan dialog adalah mengakhiri krisis politik terburuk yang pernah terjadi di Bolivia dalam 16 tahun terakhir.

    Sejumlah pengamat menilai, dialog antar pemerintah dan oposisi Bolivia telah berhasil meredakan ketegangan. "Saya akhirnya merasakan kedamaian. Saya senang bisa kembali bekerja. Kami berharap situasinya akan tetap seperti ini," tutur Silvia Maita, seorang auditor.

    Menteri Hidrokarbon Bolivia Victor Hugo Zamora mengatakan 700 ribu tabung gas telah tersedia di La Paz dan juga El Alto. Dua kota tersebut sempat kesulitan mendapatkan tabung gas untuk memasak akibat adanya sejumlah pemblokiran jalan.

    "Distribusi bahan bakar sedang dinormalisasi. Kami ingin menenangkan warga dan mencegah terjadinya kekhawatiran mengenai pasokan," ujar Zamora.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id