AS Desak Sekutu Tarik Dukungan Kesepakatan Nuklir Iran

    Arpan Rahman - 09 Januari 2020 15:57 WIB
    AS Desak Sekutu Tarik Dukungan Kesepakatan Nuklir Iran
    Presiden AS Donald Trump minta sekutunya mundur dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Foto: AFP
    Teheran: Seorang ulama senior Irak mendesak para pendukungnya untuk tidak menyerang Amerika Serikat (AS). Setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran tampaknya mundur dari ancamannya.

    "Saya meminta faksi-faksi Irak untuk mempertimbangkan, bersabar, dan tidak memulai aksi militer, dan untuk mencegah suara-suara ekstremis dari beberapa elemen jahat sampai semua metode politik, parlementer, dan internasional telah habis," kata ulama Syiah Irak yang berpengaruh, Moqtada al-Sadr.

    Imbauan itu muncul setelah Donald Trump mendesak Inggris dan negara lainnya untuk ‘mengakui kenyataan’ dan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) sebagai tanggapan atas serangan rudal Iran terhadap pasukan AS di Irak pada Rabu sebelumnya.

    Presiden AS mengatakan Iran tampaknya mundur setelah menembakkan 22 rudal. Tetapi dia mengumumkan sanksi baru terhadap Iran dan menunjuk Inggris sebagai salah satu anggota dari perjanjian nuklir, mendesak Boris Johnson mengikuti jejak Amerika dan menarik diri dari pakta. Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018.

    "JCPOA yang amat cacat berakhir tidak lama lagi dan memberi Iran jalan yang jelas dan cepat untuk petualangan nuklir," katanya dalam konferensi pers di Gedung Putih.

    "Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya dan mengakhiri dukungannya untuk terorisme, saatnya telah tiba bagi Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Tiongkok untuk mengakui kenyataan ini," tegasnya, disitir dari Daily Telegraph, Kamis, 9 Januari 2020.

    "Mereka sekarang harus melepaskan diri dari sisa-sisa kesepakatan Iran (JCPOA) dan kita semua harus bekerja sama membuat kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan lebih damai,” imbuhnya.

    Itu terjadi ketika para pejabat AS berspekulasi bahwa Iran 'bertindak sia-sia' ketika menembakkan rudal ke pasukan AS, yang tidak menimbulkan korban.

    Menurut Bloomberg, seorang pejabat AS mengatakan bahwa tidak ada tentara Amerika yang terbunuh dalam serangan itu, membuat Pentagon yakin bahwa rezim Iran ‘sengaja meleset’ dari sasaran.

    Namun, para ahli mengatakan jenis rudal yang digunakan Iran terkenal tidak dapat diandalkan, dan bahwa rezim tersebut mungkin telah salah target secara tidak sengaja.

    Sementara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berkata menentang ‘eskalasi kekerasan’ di Timur Tengah. Johnson mendesak Iran tidak mengulangi serangan misilnya yang menyerang pangkalan AS di Irak dan meminta mereka mundur dari konflik.

    Johnson menambahkan bahwa tampaknya tidak ada korban dari Inggris setelah serangan terhadap pasukan Barat, seraya mendesak Iran untuk meredakan ketegangan.

    Ketika rincian muncul dari serangan balasan, di mana 22 rudal ditembakkan, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan: "Kami mendesak Iran tidak mengulangi serangan sembrono dan berbahaya ini, dan sebagai gantinya agar mengejar deeskalasi yang mendesak."

    Roket-roket dari Iran menyerang sasaran AS, Rabu, mengenai dua pangkalan udara Irak tempat pasukan Amerika dan koalisi berpangkalan.

    Iran meluncurkan rudal darat-ke-permukaan dalam serangan terhadap pangkalan Ain al-Assad dan Erbil sebagai balas dendam atas pembunuhan Jenderal Qassim Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis di Baghdad pekan lalu.

    Sejauh ini tidak ada laporan tentang korban, tetapi itu serangan paling langsung Iran terhadap Amerika sejak 1979 merebut Kedutaan Besar AS di Teheran. Operasi itu diberi nama sandi ‘Martyr Soleimani’.

    Dalam sebuah tweet, Donald Trump berkicau: "Semua baik-baik saja! Rudal diluncurkan dari Iran di dua pangkalan militer yang berlokasi di Irak. Penilaian korban & kerusakan sudah dilakukan sekarang. Sejauh ini, sangat bagus!”

    "Sejauh ini, kita memiliki militer yang paling kuat dan lengkap di seluruh dunia! Saya akan melanjutkan pernyataan besok pagi,” tulisnya.

    Dalam sebuah tanda, Teheran berusaha untuk meredakan eskalasi ketegangan baru-baru ini, Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, berkata: "Kami tidak memburu eskalasi atau perang, tetapi akan membela diri terhadap agresi".

    Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei mengatakan serangan rudal itu merupakan "tamparan di wajah" bagi Washington.

    Khamenei menegaskan kembali, menambahkan bahwa AS mungkin telah 'memotong tangan Soleimani' tetapi Iran akan menanggapi dengan 'memotong kaki Anda' di wilayah Timur Tengah.

    Garda Revolusi Iran, yang dekat dengan pemimpin tertinggi negara itu, telah memerintahkan Gedung Putih untuk ‘menarik kembali pasukan AS’ dari wilayah tersebut.

    Konfirmasi serangan


    Pentagon mengonfirmasi serangan: "Sekitar pukul 17.30 pada 7 Januari, Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal balistik melawan pasukan militer dan koalisi AS di Irak.

    "Jelas bahwa rudal ini diluncurkan dari Iran dan menargetkan setidaknya dua pangkalan militer Irak yang menampung personel militer dan koalisi AS di Al-Assad dan Irbil," bubuhnya.

    Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS Jonathan Hoffman berkata: "Jelas bahwa rudal ini diluncurkan dari Iran."

    “Serangan menargetkan setidaknya dua pangkalan militer Irak" dan bahwa AS bekerja menilai kerusakan awal pertempuran. Ada sekitar 5.000 tentara Amerika di Irak,” sebutnya.

    Menlu AS Mike Pompeo dan Menhan Mark Esper tiba bergegas di Gedung Putih buat memberi pengarahan kepada presiden.

    Sementara Menlu Inggris Raab mengatakan, “Kami mengutuk serangan terhadap pangkalan militer Irak ini yang menampung Koalisi, termasuk pasukan Inggris. Perang di Timur Tengah hanya akan menguntungkan ISIS dan kelompok teroris lainnya."



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id