Kontroversi Bayangi Pertemuan Trump dan Presiden Ukraina - Medcom

    Kontroversi Bayangi Pertemuan Trump dan Presiden Ukraina

    Arpan Rahman - 26 September 2019 16:31 WIB
    Kontroversi Bayangi Pertemuan Trump dan Presiden Ukraina
    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melakukan pertemuan pertama dengan Presiden Donald Trump di PBB. Foto: AFP
    New York: Pertemuan pertama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky tampaknya pertemuan yang paling diantisipasi di sela-sela Majelis Umum PBB. Lantaran pengaduan seorang pembocor tentang panggilan telepon terakhir mereka, yang mungkin merugikan Donald Trump.

    DPR AS meluncurkan penyelidikan pemakzulan formal atas Trump karena meminta presiden Ukraina untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden AS Joe Biden dan putranya. Biden menjadi saingan Trump dalam pemilihan presiden 2020, yang berarti presiden bisa mendapat manfaat serius dari penyelidikan semacam itu.

    Tetapi beberapa jam sebelum pertemuan kedua pemimpin itu, Gedung Putih merilis sebuah memorandum panggilan telepon 25 Juli mereka, yang mengkonfirmasi banyak kekhawatiran tentang percakapan itu.

    "Lebih baik berada di TV daripada di telepon," mantan komedian Zelensky bercanda ketika dia duduk di sebelah Trump di depan pers di PBB pada 25 September.

    Tapi suasana jenaka Zelensky segera lenyap. Dia ingin memberi tahu dunia dan presiden salah satu sekutu penting Ukraina bahwa pemerintahannya dan pemerintah baru berkomitmen untuk mereformasi Ukraina. Dia mengungkapkan tentang prestasi mereka dalam mengeluarkan undang-undang baru dan meluncurkan Pengadilan Anti-Korupsi. Dan yang lebih penting, dia ingin meminta lebih banyak dukungan.

    "Kami memiliki dua perang di Ukraina. Yang pertama adalah korupsi. Kami akan menjadi pemenang dalam pertarungan ini. Prioritas saya adalah untuk menghentikan perang di Donbas dan mendapatkan wilayah pendudukan kembali," kata Zelensky, disitat dari Kyiv Post, Kamis 26 September 2019.

    Tetapi Trump hanya menunjukkan sedikit perhatian. AS membantu Ukraina, katanya, tetapi Jerman, Prancis, dan Uni Eropa harus merasa bersalah karena tidak membantu Ukraina sebanyak yang semestinya.

    "Anda sangat penting secara strategis ke UE, dan mereka harus banyak membantu Ukraina. Saya yakin Anda akan berbicara dengan mereka," kata Trump. Dia kemudian menambahkan bahwa AS memberikan "uang paling banyak" ke Ukraina.

    UE telah memberikan 15 miliar euro dalam bentuk hibah dan pinjaman ke Ukraina sejak 2014 dan merupakan mitra dagang terbesar negara itu.

    Kongres AS baru-baru ini mendapatkan bantuan militer senilai USD390 juta untuk Ukraina dipulihkan setelah Trump memerintahkan pembekuan. Menurut Washington Post, ia melakukannya sebelum menelepon Zelensky -- mungkin untuk menekan Ukraina mendorong agenda politiknya sendiri melawan Biden. Dia katakan kepada wartawan pada 24 September bahwa "dia akan menahannya lagi."

    "Kami berterima kasih kepada semua negara Uni Eropa dan AS, tetapi kami menginginkan lebih banyak (dukungan.) Saya mengerti bahwa hanya bersama (dengan) Amerika dan Uni Eropa kami dapat menghentikan perang (di Donbas)," kata pemimpin Ukraina.

    "Saya dengar kamu membuat kemajuan dengan Rusia. Terus lakukan. Akan lebih baik untuk mengakhiri bencana," jawab Trump. "Saya harap Anda dan Vladimir Putin bisa bersama dan menyelesaikan masalah Anda," pintanya.

    Isu Biden


    Apa yang diminta Trump dari Zelensky adalah memerangi korupsi -- khususnya korupsi besar-besaran yang ia duga melibatkan putra Biden.

    Hunter Biden bertugas di dewan direksi perusahaan minyak dan gas swasta Ukraina, Burisma selama lima tahun. Meskipun perusahaan dan pemiliknya, mantan menteri Mykola Zlochevsky, sebelumnya diselidiki atas tuduhan korupsi, kedua beranak Biden tidak pernah di bawah pengawasan penegakan hukum Ukraina.

    "Putra Biden keluar dari Ukraina dengan jutaan dolar," kata Trump. "Jika Ukraina memerangi korupsi, itu akan sangat membantu dunia," cetusnya.

    Menurut memo panggilan telepon Juli mereka, yang bukan transkrip kata-kata dari percakapan itu, Trump meminta Zelensky untuk berbicara dengan pengacara pribadinya, Rudy Giuliani, dan Jaksa Agung AS William Barr tentang putra Biden. Dia mengklaim bahwa Biden menghentikan penuntutan putranya di Ukraina dengan memecat jaksa penuntut umum. Giuliani telah lama mendorong tuduhan ini, tetapi itu tidak pernah terbukti.

    Apakah dia ditekan oleh Trump untuk menyelidiki Biden, Zelensky membantahnya.

    "Anda membaca teks (memo itu). Maafkan saya. Saya tidak ingin terlibat dalam pemilu terbuka yang demokratis di AS," kata Zelensky. "Saya pikir kami memiliki panggilan telepon yang baik. Itu normal. Kami berbicara tentang banyak hal. Tidak ada yang menekan saya," tuturnya.

    Trump menambahkan: "Dengan kata lain, tidak ada tekanan."

    "Saya tidak berutang apa pun kepada siapa pun. Ukraina adalah negara merdeka," kata Zelensky kemudian.

    "Saya tidak bisa mendorong siapa pun. Itulah jawabannya. Saya tidak menelepon atau meminta jaksa penuntut umum yang baru," tambahnya.

    Menurut memo itu, Zelensky meyakinkan Trump bahwa "jaksa penuntut umum berikutnya akan 100 persen orangnya, kandidatnya," dan dia akan menyelidiki Burisma, meskipun perusahaan itu tidak disebutkan namanya secara langsung.
     



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id