Sensor Isu Krisis Iklim, Badan PBB Dituduh Ditekan AS

    Arpan Rahman - 11 September 2019 20:13 WIB
    Sensor Isu Krisis Iklim, Badan PBB Dituduh Ditekan AS
    Imigran yang berdatangan ke Eropa, singgah di Yunani. Foto: AFP
    New York: Komunikasi yang bocor mengungkapkan bahwa Badan Pengungsi PBB menyensor dirinya sendiri mengenai krisis iklim dan kesepakatan global tentang imigrasi. Langkah itu menyusul tekanan dari Pemerintah Amerika Serikat (AS).

    Sebuah surat elektornik yang dikirim oleh seorang pejabat dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang berbasis di AS pada 28 Agustus kepada para kolega di seluruh dunia menyampaikan bahwa Biro Kependudukan, Pengungsi, dan Migrasi (PRM) Kementerian Luar Negeri AS mengatakan dalam dokumen agensi terkait kegiatan program bahwa dana "tidak boleh bertentangan dengan kepekaan politik (pemerintah AS) saat ini".

    Sensitivitas meliputi krisis iklim, tujuan pembangunan berkelanjutan, kesepakatan global untuk imigrasi dan "segala sesuatu yang tampaknya bertentangan dengan masalah administrasi dalam negeri dan luar negeri AS," tulis pejabat itu dalam email.

    "Dokumen yang terkait dengan kegiatan program, terutama yang akan dipublikasikan secara daring, mungkin memerlukan peninjauan dan persetujuan terlebih dahulu oleh donor," mereka melanjutkan, meminta rekan kerja bijaksana dan berbagi dokumen yang relevan "dalam waktu yang cukup untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan berkoordinasi dengan PRM," cetusnya, dilansir dari Guardian, Rabu 11 September 2019.

    Penulis email mencatat bahwa "PRM bersedia memotong dana di daerah-daerah yang dianggapnya tidak sejalan dengan tujuan kebijakan luar negeri AS", dan meminta agar substansi email tersebut disampaikan oleh koordinator regional "ke semua titik fokus negara".

    The Guardian mengetahui dari sumber-sumber IOM dan komunikasi lebih lanjut telah menunjukkan bahwa badan tersebut menghindari referensi langsung ke perubahan iklim dalam dokumen untuk berbagai proyek yang didanai oleh entitas pemerintah AS lainnya seperti USAid.

    IOM menerima sekitar seperempat dari total anggarannya sebesar USD2 miliar (setara Rp28,1 kuadriliun) dari AS, USD18 juta di antaranya disediakan oleh PRM.

    Tidak ada indikasi bahwa pengiriman pesan pada proyek yang didanai oleh donor lain akan disensor, atau bahwa akan ada dampak operasional pada program yang ada.

    Namun, sebuah sumber di komunitas kemanusiaan di AS yang baru-baru ini meninggalkan IOM, mengatakan kepada Guardian bahwa ia "sangat prihatin bahwa IOM menyetujui tekanan semacam ini".

    Jeff Crisp, seorang peneliti di Pusat Studi Pengungsi Universitas Oxford yang sebelumnya memegang posisi senior di badan pengungsi PBB UNHCR, mengatakan pesan yang bocor itu "menimbulkan beberapa pertanyaan serius tentang otonomi IOM, kepekaannya terhadap posisi yang diadopsi oleh pemerintah AS, dan kemampuannya untuk berfungsi sebagai anggota sistem PBB".

    "Menghadapi perubahan iklim mungkin adalah masalah yang menentukan waktu kita. Agen-agen dalam PBB seharusnya tidak menarik garis partai Trump,” ujar Direktur Advokasi Krisis di Human Rights Watch, Akshaya Kumar.

    Ketegangan antara AS dan IOM telah membara selama tahun lalu, ketika Ken Isaacs, kandidat AS yang diusulkan untuk memimpin badan tersebut, menjadi orang Amerika pertama sejak 1960-an yang ditolak sebagai pejabat puncaknya, memicu kekhawatiran bahwa pendanaan dari negara Paman Sam bisa dipotong.

    Laporan pers pada saat itu mengungkapkan bahwa Isaacs telah berkomentar mengungkapkan keraguan atas bukti untuk perubahan iklim, menunjukkan itu adalah "tipuan".

    Presiden Trump sendiri menyatakan keraguan tentang efek dan penyebab perubahan iklim, sementara AS keberatan dengan perjanjian global tentang migrasi, menggambarkannya sebagai perjanjian "pro-migrasi" dan "upaya oleh PBB untuk memajukan tata kelola global mengorbankan hak berdaulat negara".

    Leonard Doyle, kepala komunikasi IOM, bertutur: "IOM mengakui dan menghormati prioritas dan keterbatasan donornya, termasuk AS. Kami berupaya memastikan bahwa staf menyadari sensitivitas seperti itu ketika menyusun proposal pendanaan untuk kegiatan yang merupakan respons terhadap tren migrasi dan yang mengikuti praktik terbaik."

    Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS berucap: "IOM adalah mitra penting bagi Amerika Serikat di seluruh dunia. Pemerintah AS mendukung organisasi seperti IOM, untuk melakukan program dan kegiatan yang konsisten dengan tujuan dan sasaran kebijakan luar negeri kami."



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id