PBB Selidiki Klaim Pelanggaran HAM Usai Protes di Chile

    Arpan Rahman - 25 Oktober 2019 14:33 WIB
    PBB Selidiki Klaim Pelanggaran HAM Usai Protes di Chile
    Protes antipemerintah di Chile berujung pada kerusuhan. Foto: AFP
    Santiago: Komisi Tinggi PBB tentang hak asasi manusia mengirim tim ke Chile untuk menyelidiki tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap demonstran. Penyelidikan di tengah gelombang protes jalanan atas ketidakadian, penurunan upah, dan meningkatnya biaya pendidikan serta perawatan kesehatan.

    "Setelah memantau krisis sejak awal, saya memutuskan untuk mengirim misi verifikasi guna memeriksa laporan pelanggaran hak asasi manusia di Chile," komisaris tinggi dan mantan presiden Chile Michelle Bachelet mencuit di Twitter, dilansir dari Guardian, Kamis 24 Oktober 2019.

    Pekan ini, Bachelet berkata "sangat terganggu dan sedih melihat kekerasan, kehancuran, kematian, dan cedera di Chile".

    Sejak kerusuhan meletus pada 19 Oktober, pasukan polisi dan militer Carabineros menangkap 2.410 orang di seluruh negeri -- 200 di antaranya melibatkan anak di bawah umur - dan 535 orang terluka, menurut komisi hak asasi manusia Chile, INDH.

    Setidaknya 18 orang tewas dalam kekerasan itu. INDH mengkonfirmasi bahwa mereka sedang menyusun 55 kasus hukum terkait lima kasus pembunuhan dan delapan kasus kekerasan seksual yang melibatkan polisi dan agen militer, yang akan diselidiki oleh layanan penuntutan umum Chile.

    Seorang jaksa penuntut khusus sudah ditunjuk untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM di 13 distrik di Santiago.

    Sejak protes mahasiswa atas tiket kereta bawah tanah membengkak menjadi gerakan nasional melawan pemerintah, demonstrasi damai yang luas telah terjadi di seluruh negeri. Tetapi respons pemerintah sebagian besar terfokus pada upaya mencegah pecahnya kekerasan dan penjarahan.

    Presiden Chile, Sebastian Pinera, mendapat kecaman keras atas tanggapannya terhadap kerusuhan itu, setelah ia muncul di televisi -- diapit oleh komandan militer -- dan mengumumkan bahwa Chile "berperang dengan musuh yang kejam".

    Pinera menyatakan keadaan darurat di banyak negara bagian, menyatakan jam malam, dan mengerahkan tank serta pasukan untuk memadamkan kerusuhan terburuk yang dihadapi Chile sejak akhir kediktatoran Augusto Pinochet.

    Presiden kemudian mengubah taktik, membatalkan kenaikan tarif kereta bawah tanah dan menunda kenaikan tarif listrik sebesar 9,2 persen. Namun langkah itu gagal menenangkan para pemrotes, yang terus berduyun-duyun ke jalan menuntut perubahan besar pada bagaimana negara itu berfungsi dan diperintah.

    Bentrokan terbaru pecah pada Kamis ketika pengunjuk rasa melempari batu, bertarung dengan polisi yang menembakkan gas air mata dan meriam air di Santiago, dan kota pelabuhan Valparaiso. Ratusan demonstran berkumpul di alun-alun kota di sekitar negara itu.

    Kelompok HAM dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), sebuah forum pan-regional, juga telah mengumumkan bahwa mereka akan bersidang di Ekuador pada 11 November. Tujuannya untuk membahas dugaan pelanggaran dan telah meminta publik dan pemerintah Chile memberikan bukti.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id