Gencatan Senjata Sehari, Satu Keluarga di Nikaragua Tewas Dibakar

    Arpan Rahman - 17 Juni 2018 17:15 WIB
    Gencatan Senjata Sehari, Satu Keluarga di Nikaragua Tewas Dibakar
    Satu keluarga tewas dibakar di Nikaragua. (Foto: AFP)
    Managua: Kekerasan terus berlangsung di Nikaragua sehari sesudah pemerintah dan oposisi menyetujui gencatan senjata demi mengakhiri hampir dua bulan kerusuhan.

    Dalam insiden terburuk, setidaknya enam anggota keluarga yang sama tewas dalam serangan pembakaran, pada Sabtu pagi 16 Juni. Pihak oposisi menuduh milisi pro-pemerintah memulai kebakaran dan mengintimidasi mereka yang berupaya membantu.

    Lebih dari 170 orang kini meninggal sejak protes terhadap Presiden Daniel Ortega dimulai pada April. Pemerintah membantah terlibat dalam insiden itu, seraya menyalahkan bahwa itu adalah ulah penjahat biasa.

    Dilansir BBC, Minggu 17 Juni 2018, keluarga nahas itu memiliki bisnis kasur dan tinggal di atas toko. Media lokal melaporkan bahwa properti mereka dibakar oleh orang-orang berkerudung yang melemparkan bom molotov ke rumah.

    Baca: Tewasnya Ratusan Orang di Nikaragua "Tragedi Kemanusiaan"

    Kepala Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), Luis Almagro, berkata dia mengutuk "tindakan teror ini, yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang tidak bisa dibiarkan tanpa hukuman".

    Di tempat lain di Managua, setidaknya dua orang lainnya tewas dalam insiden terpisah yang dikaitkan dengan kelompok pro-pemerintah bertopeng yang didukung oleh polisi bersenjata.

    Meskipun timbul ketegangan disebabkan serangan pembakaran, oposisi setuju melanjutkan pembicaraan yang dimediasi oleh Gereja Katolik Roma Nikaragua.

    Negosiasi sudah dilanjutkan, pada Jumat 15 Juni. Dalam pengumuman mengejutkan, pemerintah dan oposisi mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata.

    Disepakati juga bahwa komisi kebenaran akan dibentuk dan penyelidik internasional diizinkan masuk ke negara itu.

    Namun Ortega menekankan bahwa ia akan menjalani masa jabatan ketiga sepenuhnya, hingga 2021, dan tidak akan menerima penyelenggaraan pemilihan umum lebih awal.

    Mantan pemimpin pemberontak Sandinista itu telah berkuasa selama 11 tahun. Dia terpilih kembali pada 2016 dengan lebih dari 70 persen suara.

    Baca: Ribuan Warga Nikaragua Desak Mundur Presiden dan Wapres

    Protes dipicu pemotongan pensiun dan jaminan sosial yang diberlakukan oleh Ortega pada 18 April. Sekelompok pensiunan dan sejumlah mahasiswa turun ke jalan menggelar protes spontan. Mereka bergabung dalam beberapa hari ke depan diikuti ribuan orang.

    Demonstrasi secara brutal ditekan oleh polisi, mendorong ribuan orang buat bergabung dengan gerakan itu dan menuntut pengunduran diri Presiden Ortega.

    Ortega mengatakan anggota geng dan penjahat lainnya sudah menyusup ke gerakan protes, didorong kelompok sayap kanan yang ingin mengacaukan pemerintahannya.




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id