Utusan Libya Serukan Penghentian Intervensi Kekuatan Asing

    Willy Haryono - 19 Januari 2020 07:19 WIB
    Utusan Libya Serukan Penghentian Intervensi Kekuatan Asing
    Utusan Libya untuk PBB Ghassan Salame. (Foto: AFP)
    New York: Utusan Libya untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Ghassan Salame menyerukan sejumlah kekuatan asing untuk berhenti mengintervensi dalam perang sipil yang berkecamuk di negaranya. Pernyataan disampaikan Salame menjelang dialog damai konflik Libya di Jerman pada hari ini, Minggu 19 Januari 2020.

    Salame menilai dukungan sejumlah negara asing dalam konflik Libya telah menciptakan "siklus kekerasan brutal." Namun ia mengatakan kepada kantor berita BBC bahwa dirinya optimistis mengenai dialog damai kubu bertikai di Berlin hari ini.

    Berbicara dalam program Today dari BBC Radio 4, Salame menyerukan kekuatan asing untuk berhenti mendukung sejumlah grup proksi lokal. Menurutnya, hal itu hanya akan memperburuk situasi.

    Peran negara asing dalam konflik Libya telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya adalah Turki, yang telah meloloskan sebuah aturan kontroversial untuk mengirim pasukan ke Tripoli.

    Dalam konflik Libya, Turki mendukung Pemerintah Perjanjian Nasional (GNA) yang secara resmi diakui PBB. Sementara lawan GNA, yakni Pasukan Nasional Libya (LNA) di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar, didukung Rusia, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Yordania.

    Dialog damai di Berlin hari ini bertujuan mendorong negara-negara asing untuk menghormati embargo senjata PBB atas Libya. Pertemuan juga bertujuan menghentikan intervensi lebih lanjut dalam konflik Libya.

    Pada 12 Januari, kubu bertikai di Libya mengumumkan gencatan senjata seperti yang telah diserukan Turki dan Rusia. Namun dialog untuk mengesahkan gencatan senjata di Moskow pada Senin kemarin berakhir gagal, usai pemimpin Haftar meninggalkan ibu kota Rusia tanpa menandatangani perjanjian.

    Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Turki adalah kunci dari proses perdamaian di Libya. Untuk mewujudkan perdamaian tersebut, Erdogan menyerukan Uni Eropa untuk mendukung negaranya dan juga pemerintah resmi Libya.

    "Jika UE tidak mendukung GNA, maka hal tersebut merupakan pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip utama mereka, termasuk demokrasi dan hak asasi manusia," tutur Erdogan.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id