Penarikan Tentara AS Berisiko Perang Saudara Total Afghanistan

    Arpan Rahman - 04 September 2019 19:08 WIB
    Penarikan Tentara AS Berisiko Perang Saudara Total Afghanistan
    Pasukan Amerika Serikat (AS) yang bertugas di Afghanistan. (Foto: AFP).
    Kabul: Sebanyak sembilan Duta Besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di Afghanistan sejak tergulingnya pemerintah Taliban telah mengutuk pendekatan Amerika Serikat untuk menegosiasikan penarikan pasukan. Mereka memperingatkan bahwa itu berisiko kembalinya ke "perang saudara total".

    Menulis sehari setelah naskah perjanjian diumumkan, kesembilan Dubes itu, termasuk mantan wakil menteri luar negeri, mengatakan mereka mendukung pembicaraan damai di Afghanistan.

    Tetapi memperingatkan bahwa pendekatan saat ini berisiko menimbulkan lebih banyak kekerasan dan rasa tidak aman. Soalnya para perunding telah memotong pembicaraan pemerintah Afghanistan dan merencanakan mundurnya pasukan AS sebelum menyegel perjanjian damai penuh.

    "Kami percaya bahwa keamanan dan nilai-nilai AS, termasuk dukungan untuk wanita, mengharuskan penarikan pasukan penuh hanya setelah perdamaian nyata," kata surat terbuka, yang diterbitkan oleh Atlantic Council.

    "Kita tidak boleh menarik begitu banyak dukungan dari mitra Afghanistan kita sehingga mereka tidak dapat melindungi diri mereka sendiri atau kesempatan untuk terus bergerak maju dengan demokrasi perwakilan," sambungnya, disitir dari Guardian, Rabu, 4 September 2019.

    Menambah kekacauan politik di Afghanistan, pemilihan presiden ditetapkan 28 September. Tidak jelas apakah pilpres akan dilanjutkan, tetapi surat itu memperingatkan terhadap saran bahwa pemungutan suara harus ditunda jika kesepakatan dengan AS membuka jalan bagi pembicaraan antar-Afghanistan.

    "Rakyat Afghanistan berhak menentukan pemerintah mereka dan siapa yang akan mewakili mereka dalam negosiasi damai. Agar ini terjadi, ada argumen kuat bahwa pemilihan presiden yang direncanakan untuk bulan September harus maju," tulis para duta besar.

    Di antara mereka, para penandatangan memiliki pengalaman 12 tahun di Kedubes AS di Kabul selama dua dekade terakhir. Mereka juga termasuk John Negroponte, mantan wakil menteri luar negeri dan direktur intelijen nasional pertama AS.

    Hanya empat duta besar dari periode sejak serangan 9/11 dan pemindahan pemerintah Taliban yang didukung AS yang absen dari daftar penandatangan. Salah satunya adalah petahana, dan yang lainnya adalah utusan utama AS untuk pembicaraan damai, Zalmay Khalilzad.

    Setelah satu tahun negosiasi, Khalilzad mencapai rancangan kesepakatan dengan Taliban untuk penarikan pasukan AS. Namun para pejabat Afghanistan disingkirkan dari perundingan, dan rancangan kesepakatan itu hanya diperlihatkan kepada Presiden Ashraf Ghani pekan ini.

    Keputusan itu, didorong penolakan Taliban berbicara kepada pejabat yang mereka kecam sebagai "boneka", tidak bijaksana dan merusak pemerintah Afghanistan, kata para Dubes. "Apakah Amerika Serikat ingin atau tidak ingin terus melibatkan sejumlah pasukan, kita tidak boleh melemahkan pemerintah yang sah di Afghanistan dengan menjauhkan mereka dari negosiasi," tegasnya.

    Naskah kesepakatan penarikan juga tidak menentukan bagaimana Afghanistan harus diperintah begitu pasukan Amerika pergi. Para kritikus berkata itu dapat menjadi panggung buat perang saudara yang intensif.

    Meskipun dukungan AS sangat penting bagi pasukan keamanan Afghanistan, masih beberapa ratus ribu personel didukung oleh milisi yang memerangi Taliban sejak sebelum pasukan AS pertama kali tiba. Sebagian besar cenderung memiliki insentif yang kuat untuk terus berjuang.

    Kesepakatan itu akan memungkinkan penarikan awal hampir 5.000 tentara AS. Dalam sebuah wawancara dengan TV Tolo di Afghanistan, Khalilzad menolak untuk memastikan berapa lama sisa 8.500 tentara bisa tinggal, tetapi laporan sebelumnya menyiratkan itu akan berlalu di bawah dua tahun.

    Sebagai imbalannya, Taliban akan menjamin bahwa negara itu tidak akan digunakan oleh al-Qaeda atau pelbagai kelompok ekstremis lainnya sebagai pangkalan serangan di barat. Para kritikus mempertanyakan bagaimana hal itu akan diberlakukan jika AS tidak lagi memiliki kehadiran militer di lapangan.

    Perjanjian tersebut harus disetujui oleh Donald Trump sebelum dapat ditandatangani. Tetapi Presiden AS telah membuat sedikit rahasia ihwal keinginannya untuk membebaskan AS dari perang terpanjang sesegera mungkin.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id