Puluhan Warga AS Keturunan Iran Ditahan di Perbatasan

    Arpan Rahman - 07 Januari 2020 17:09 WIB
    Puluhan Warga AS Keturunan Iran Ditahan di Perbatasan
    Seorang pria memegang bendera Amerika Serikat dan Iran. (Foto: AFP/Getty/C. Barria)
    Washington: Puluhan warga Iran dan juga Amerika Serikat keturunan Iran ditahan selama berjam-jam di perbatasan AS dan Kanada, akhir pekan kemarin. Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengatakan, mereka semua ditahan dan diinterogasi dalam waktu yang cukup lama di perbatasan Peace Arch Border Crossing di Blaine.

    "Mereka yang ditahan mengaku didekati petugas. Paspor mereka kemudian disita, dan petugas juga menanyakan mengenai pandangan politik masing-masing," ujar CAIR, dinukil dari UPI, Senin 6 Januari 2020. 

    Penahanan ini terjadi saat sejumlah warga AS keturunan Iran berencana pulang ke Negeri Paman Sam, setelah sebelumnya menghadiri sebuah konser musik pop di Vancouver, British Columbia.

    CAIR mengatakan beberapa dari total 60 orang yang ditahan di perbatasan sempat diinterogasi selama 10 jam.

    "Laporan ini sangat mengkhawatirkan, dan juga berpotensi sebagai bentuk praktik penahanan ilegal di AS," ujar Direktur Eksekutif CAIR cabang Washington, Masih Fouladi.

    Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) membantah tuduhan bahwa mereka sengaja menahan dan melarang masuk puluhan orang hanya karena status kewarganegaraan.

    CBP menyebut waktu tunggu setiap orang di titik perbatasan di Blaine rata-rata berkisar dua jam pada Sabtu 4 Januari. CBP menyebut bahkan beberapa orang harus menunggu hingga 4 jam karena "tingginya volume dan minimnya staf di musim liburan."

    "Berdasarkan situasi terkini, CBP meningkatkan pengawasan di titik perbatasan dalam usaha melindungi keamanan nasional dan juga masyarakat AS," sebut CBP.

    Gubernur Jay Inslee mengatakan via Twitter bahwa pihaknya sedang menyelidiki laporan penahanan dan interogasi di perbatasan. Ia mengaku telah mendapat informasi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS bahwa tidak ada perintah penahanan terhadap puluhan orang tersebut.

    "Hingga saat ini kami terus mencari jawaban dari pejabat federal, dan juga berbicara dengan mereka yang mengaku ditahan di perbatasan," ungkap Inslee.

    Sementara itu, ketegangan AS dan Iran melonjak drastis sejak serangan udara Washington menewaskan jenderal Qassem Soleimani pada Jumat 3 Januari. Iran mengancam akan melayangkan balasan keras, sedangkan AS mengaku siap menyerang 52 situs Teheran jika aset-aset Negeri Paman Sam diserang.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id