Ketegangan dengan Iran Meningkat, AS Kirim Pasukan ke Saudi

    Willy Haryono - 20 Juli 2019 14:08 WIB
    Ketegangan dengan Iran Meningkat, AS Kirim Pasukan ke Saudi
    Jenderal AS Kenneth McKenzie mengunjungi Arab Saudi pada Kamis 18 Juli 2019. (Foto: AFP)
    Washington: Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mengaku tengah mengirim pasukan ke Arab Saudi untuk melindungi kepentingan Amerika dari "ancaman kredibel."

    Pengiriman dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait keamanan pelayaran di Teluk Arab.

    Dikutip dari laman BBC, Sabtu 20 Juli 2019, Arab Saudi mengonfirmasi bahwa Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud telah menyepakati pengiriman pasukan AS "untuk memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan."

    Pasukan AS sudah tidak ada lagi di Arab Saudi sejak 2003 sejak ditarik mundur di akhir perang Irak. Kehadiran militer AS di Arab Saudi diawali dengan Operation Desert Storm pada 1991, saat Irak menginvasi Kuwait.

    Peter Bowes, koresnponden BBC di Amerika Utara, mengatakan bahwa AS tengah mengirim sistem pertahanan udara Patriot yang dioperasikan 500 prajurit ke Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi,

    AS juga disebut mengirim skuadron pesawat jet tempur F-22 ke pangkalan tersebut.

    "Pergerakan pasukan ini memastikan kemampuan kami dalam membela kepentingan kami di kawasan dari ancaman kredibel," ujar pernyataan dari Komando Pusat AS.

    Ketegangan antara AS dan Iran memburuk sejak Washington secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Setelah menarik diri, AS menjatuhkan rangkaian sanksi ekonomi kepada Iran.

    Bulan lalu, Iran menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak AS di Selat Hormuz. AS berkukuh drone itu terbang di perairan internasional, dan menyebut penembakan oleh Iran sebagai bentuk serangan tanpa provokasi.

    AS juga telah menyerukan Iran untuk melepaskan kapal tanker berbendera Panama dan 12 krunya, yang disita Garda Revolusioner pada Minggu pekan lalu. Iran menyebut kapal itu sedang menyelundupkan bahan bakar.

    Kamis kemarin, Presiden Donald Trump mengatakan kapal perang AS telah menghancurkan sebuah drone Iran. Teheran membantah telah kehilangan sebuah drone.

    Satu hari setelahnya, ketegangan kembali meningkat saat Iran menyita kapal tanker berbendera Inggris bernama Stena Impero. Iran menyebut tanker itu melanggar beberapa peraturan.

    Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt mendesak agar Iran segera melepaskan tanker tersebut. Ia mengancam akan adanya "konsekuensi serius" jika Iran tidak segera melakukannya.

    Washington juga menyalahkan Iran atas dua serangan terpisah terhadap tanker di Teluk Oman pada Mei dan Juni lalu. Teheran membantah tudingan tersebut.

    Baca: Iran Sita Kapal Tanker Inggris di Selat Hormuz




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id