Dilarang Kunjungi Israel, Anggota Kongres AS Balas Melawan

    Arpan Rahman - 16 Agustus 2019 13:21 WIB
    Dilarang Kunjungi Israel, Anggota Kongres AS Balas Melawan
    Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang dilarang masuk ke Israel. Foto: AFP.
    Washington: Dua anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat mengecam keputusan Israel melarang mereka berkunjung sebagai ‘penghinaan terhadap nilai-nilai demokrasi’. Larangan itu tampaknya dipicu oleh tweet dari Donald Trump.

    Baca juga: Israel Larang Kunjungan Dua Muslim Anggota Kongres AS.

    Dalam episode terakhir dari pertikaiannya dengan empat wanita anggota kongres kulit berwarna, Trump mengatakan di Twitter bahwa Israel akan "menunjukkan kelemahan besar" jika mengizinkan anggota kongres Muslim Ilhan Omar dan Rashida Tlaib untuk berkunjung.

    Kunjungan keduanya sebagai bagian dari pencarian fakta pribadi akhir bulan ini. Dua anggota lain dari ‘Skuat’ yang diserang presiden -- Alexandria Ocasio-Cortez, Ayanna Pressley -- tidak ikut berkunjung.

    Presiden, yang telah berulang kali mengklaim, tanpa memberi bukti, bahwa kedua wanita itu antisemitik, menambahkan: "Anggota kongres Omar dan Tlaib adalah wajah Partai Demokrat, dan mereka BENCI Israel!"

    Setelah Israel mengambil langkah yang tampaknya tidak pernah terjadi sebelumnya mengumumkan bahwa mereka melarang kedua Demokrat itu, keduanya lantas membalas dengan menyebut langkah itu penghinaan terhadap nilai-nilai Demokrat.

    "Ini adalah penghinaan bahwa Perdana Menteri Israel Netanyahu, di bawah tekanan dari Presiden Trump, akan menolak masuk ke perwakilan pemerintah AS," kata Omar dalam sebuah pernyataan.

    "Larangan Muslim Trump adalah apa yang diterapkan Israel, kali ini terhadap dua anggota kongres yang terpilih," sambungnya, dilansir dari Independent, Jumat 16 Agustus 2019.

    "Ironi dari 'satu-satunya demokrasi' di Timur Tengah yang membuat keputusan tersebut adalah bahwa itu merupakan penghinaan terhadap nilai-nilai demokrasi dan respons yang mengerikan terhadap kunjungan pejabat pemerintah dari negara sekutu,” tutur Omar.

    Tlaib dan Omar, keduanya mengkritik pemerintah Israel dipimpin Benjamin Netanyahu, akan berpartisipasi dalam perjalanan pribadi yang diselenggarakan oleh LSM yang dipimpin Palestina untuk mengunjungi Israel dan Tepi Barat, tempat Tlaib memiliki keluarga.

    Netanyahu, mengutip dukungan para wanita terhadap gerakan boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) terhadap Israel, mengumumkan bahwa ia akan melarang wanita kongres memasuki negaranya.

    "Rencana dua wanita anggota kongres itu hanya untuk merusak Israel dan menyerang Israel," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan menyusul keputusan tersebut.

    Langkah itu dikecam oleh sejumlah tokoh Demokrat, termasuk ketua DPR Nancy Pelosi, yang telah lama memiliki ikatan kuat dengan Israel.

    Beberapa politisi Republik menentang keputusan itu, terutama senator Florida Marco Rubio, yang telah menjadi kritikus vokal dari dua wanita kongres itu. Dia mencuit: "Saya tidak setuju 100 persen dengan anggota kongres Tlaib & Omar soal #Israel & saya penulis RUU #AntiBDS yang kami sahkan di Senat. Tapi menolak mereka masuk ke #Israel adalah kesalahan. Melarang adalah apa yang benar-benar mereka harapkan selama ini untuk meningkatkan serangan mereka terhadap negara Yahudi."

    Larangan itu juga dikritik oleh kelompok lobi pro-Israel yang kuat AIPAC, yang berkata dalam sebuah pernyataan: "Kami tidak setuju dengan dukungan (anggota kongres) Omar dan Tlaib untuk gerakan BDS anti-Israel dan anti-perdamaian, bersama dengan seruan Tlaib untuk sebuah solusi satu negara. Kami juga percaya setiap anggota Kongres harus dapat mengunjungi sekutu demokratis Israel kami secara langsung."

    Dylan J. Williams, wakil presiden senior di J Street, kelompok advokasi Yahudi-Amerika, bertutur: "Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hubungan AS-Israel.

    "Fakta bahwa puluhan anggota parlemen AS dan hampir setiap kelompok Yahudi-Amerika di negara itu secara terbuka menentang Trump dan Netanyahu dalam hal ini menunjukkan betapa parahnya krisis yang dipicu kedua tokoh itu. Ini adalah langkah yang tidak meninggalkan keraguan tentang impuls anti-demokrasi dalam diri mereka dan pengabaian sembrono buat menjaga hubungan bilateral di luar cakrawala politik pribadi mereka," katanya.

    Di Twitter, Tlaib, warga Palestina-Amerika pertama yang terpilih untuk Kongres, merespons dengan memposting foto neneknya, yang tinggal di Tepi Barat.

    "Dia layak hidup damai dan dengan martabat manusia. Saya menjadi siapa saya sekarang karena dia," tulisnya.

    "Keputusan Israel untuk melarang cucunya, seorang anggota kongres AS, adalah tanda kelemahan karena kebenaran tentang apa yang terjadi pada Palestina sangat menakutkan," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id