Halangi Penyelidikan atas Rusia, Sekutu Trump Dihukum Penjara

    Arpan Rahman - 21 Februari 2020 17:04 WIB
    Halangi Penyelidikan atas Rusia, Sekutu Trump Dihukum Penjara
    Rekan Donald Trump divonis penjara atas tuduhan halangi penyelidikan. Foto: AFP
    Washington: Roger Stone, teman lama dan penasihat politik untuk Donald Trump, dijatuhi hukuman lebih dari tiga tahun penjara. Ia terbukti berbohong kepada kongres dan menghalangi penyelidikan federal.

    Otoritas federal memusatkan perhatian pada Stone selama investigasi soal campur tangan Rusia di pemilu Amerika Serikat. Investigasi itu dilakukan Robert Mueller.

    Para penyelidik berfokus pada kontak lama operasi politik Republik dengan seorang peretas Rusia dan kemungkinan pertukaran dokumen yang ia miliki dengan pendiri Wikileaks, Julian Assange, yang organisasinya merilis berkas email Komite Nasional Demokrat. Aksi itu menurut para analis kemungkinan mendongkrak sukses Trump memenangkan jabatan di Gedung Putih pada 2016.

    Kementerian Kehakiman AS awalnya berencana untuk merekomendasikan hukuman sembilan tahun. Tetapi jaksa agung William Barr menyarankan Hakim Amy Berman Jackson alternatif dengan opsi untuk hukuman penjara yang lebih singkat. Itu terjadi setelah presiden menyebut hukuman hampir sepuluh tahun sebagai ‘matinya keadilan’, mendorong Barr secara terbuka menegur presiden yang menyusahkan urusan Kementerian Kehakiman (DOJ) dalam sebuah wawancara televisi -- yang segera ditentang oleh Trump dengan lebih banyak tweet bertema DOJ.

    Hakim mengatakan, kepada kubu Stone dan jaksa penuntut federal bahwa hukuman tujuh atau sembilan tahun akan terlalu keras, tetapi menyebut hukuman percobaan ‘tidak cukup’. Dia juga mengatakan Stone dihukum karena ‘melindungi presiden’, menurut laporan dari dalam ruang sidang. Berpotensi menciptakan pandangan yang sulit untuk pengampunan presiden -- pada tahun pemilu di mana petahana kembali bertarung dalam pemungutan suara.

    "Pengadilan tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai komentar. Itu tidak pantas,” ucap Hakim Jackson.

    Komentar itu tidak menghentikan presiden dari mencuit selama sidang hukuman. Dalam satu tweet, ia menulis: "'Mereka mengatakan Roger Stone berbohong kepada kongres.' @CNN oh, saya mengerti, tetapi begitu juga Comey (dan dia juga membocorkan informasi rahasia, yang hampir semua orang, selain Hillary Clinton yang busuk, akan masuk penjara) untuk waktu yang lama), dan begitu pula Andy McCabe, yang juga berbohong kepada FBI! Keadilan?"

    Dinukil dari The Independent, Jumat 21 Februari 2020, penasihat hukum Stone sudah meminta persidangan baru setelah presiden menyarankan dia tidak menerima persidangan yang adil.

    Empat jaksa federal meninggalkan kasus ini setelah tweet "matinya keadilan" Trump, sebuah langkah yang sangat tidak biasa. Politikus Demokrat dan pakar hukum bersuara tentang Trump menyalahgunakan jabatannya dan merusak norma setelah terbebas dari pemakzulannya di Senat.

    Meskipun Hakim Berman Jackson memilih untuk melanjutkan hukuman, dia sedang memeriksa apakah akan mengabulkan atau tidak atas seruan pengacara untuk sidang baru.

    "Sekarang sepertinya anggota juri, dalam kasus Roger Stone, memiliki bias yang signifikan. Tambahkan itu ke semua yang lain, dan ini tidak terlihat bagus untuk 'Kementerian Kehakiman'," tulis Trump di Twitter pada 13 Februari.

    "Saya pikir hal yang sangat, sangat kasar dialami Roger Stone," katanya, sebelum melayangkan apa yang oleh sebagian orang dianggap sebagai pengampunan bagi Stone dan salah satu mantan penasihat keamanan nasionalnya.

    Mueller-lah yang mendakwa Stone selama investigasi tingkat tinggi atas campur tangan Rusia 2016 dan semua hal menyangkut Trump. Dalam pengarsipan tentang dakwaan itu, Mueller merujuk interaksi Stone dengan "Organisasi 1", yang dianggap sebagai Wikileaks.

    Mantan penasihat khusus mengatakan kepada pengadilan bahwa entitas itu telah "memposting dokumen yang dicuri oleh orang lain". Menambahkan organisasi yang tidak disebutkan namanya itu juga "merilis puluhan ribu dokumen yang dicuri" dari Komite Nasional Demokratik dan lainnya, termasuk John Podesta, yang pada 2016 menjadi ketua kampanye untuk calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton.

    Tim hukum Stone mencatat pada usia 67, dia tidak mungkin mengulangi perilaku yang tidak diinginkan. Sementara itu juga berpendapat Stone penyayang hewan, akan menjadi kakek buyut, dan membantu mantan pemain sepak bola profesional dengan cedera otak.

    Tetapi Berman Jackson, dalam sebuah pernyataan panjang sebelum menjatuhkan hukumannya, berulang kali mengkritik Stone. Ia berkata pada satu titik: "Dia menggunakan alat media sosial untuk mencapai penyebaran seluas mungkin. Itu bukan kebetulan, dia punya staf yang membantunya melakukannya."



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id