Venezuela Gelap Gulita, Pemerintah Curigai Serangan Elektromagnetik

    Arpan Rahman - 23 Juli 2019 16:16 WIB
    Venezuela Gelap Gulita, Pemerintah Curigai Serangan Elektromagnetik
    Warga berjalan di tengah pemadaman listrik di Caracas, Venezuela, Senin 22 Juli 2019. (Foto: AFP/YURI CORTEZ)
    Caracas: Caracas dan sejumlah wilayah lainnya di Venezuela kembali dilanda pemadaman listrik besar-besaran pada Senin 22 Juli. Pemerintah Venezuela mencurigai adanya "serangan elektromagnetik" di balik pemadaman kali ini.

    Sebagian besar area di Caracas kehilangan aliran listrik pada pukul 16.41 waktu setempat. Warga di sejumlah kota lainnya di Venezuela juga melaporkan terjadinya pemadaman via media sosial.

    "Indikasi pertama yang kami terima dari proses investigasi adalah adanya serangan elektromagnetik yang menyasar sistem pembangkit listrik tenaga air Guayana," ujar Menteri Komunikasi Venezuela Jorge Rodriguez, dalam sebuah pernyataan di televisi nasional, dilansir dari laman AFP, Selasa 23 Juli 2019.

    Guayana di Venezuela selatan adalah lokasi berdirinya PLTA Guri yang memproduksi sekitar 80 persen listrik di negara tersebut. Pernyataan yang dibacakan Rodriguez menyatakan pemadaman kali ini adalah "peristiwa nasional."

    Sejumlah ruas jalan di ibu kota macet parah karena padamnya lampu lalu lintas. Sementara trotoar dipenuhi warga yang memilih berjalan kaki karena moda transportasi publik pun terhenti.

    Deretan pertokoan juga tutup karena hilangnya aliran listrik menjadikan sistem pembayaran kartu kredit atau debit tidak berguna. Dalam beberapa bulan terakhir di Venezuela, pembayaran tunai jarang dilakukan karena minimnya uang fisik yang beredar terkait inflasi.

    "Saya lapar. Saya ingin makan. Tapi saya tidak bisa menggunakan kartu kredit ini," kata Hernan Montalvo, yang mengaku tidak punya uang tunai untuk sekadar membeli hot dog.

    Memasuki Senin malam, Caracas benar-benar gelap gulita. Cahaya sesekali terlihat dari beberapa mobil yang melintas.

    "Saya kesal. Pemerintah tidak berusaha memperbaiki keadaan ini. Mungkin pemadaman kali ini yang terparah dari beberapa peristiwa sebelumnya," ucap Eurimar Guere, warga berusia 36 tahun, kepada AFP.

    Presiden Venezuela Nicolas Maduro menilai pemadaman ini sebagai "serangan kriminal terhadap perdamaian Tanah Air." Ia mengaku telah mengerahkan angkatan bersenjata untuk membantu menangani berbagai hal di tengah pemadaman.

    Maret lalu, pemadaman masif terjadi di 23 negara bagian Venezuela dan berlangsung selama sepekan. Pemadman melumpuhkan sejumlah layanan publik, termasuk pasokan air bersih, dan juga menghentikan aktivitas perkantoran dan sekolah.

    Baca: Menteri Energi Venezuela Dipecat Karena Sering Mati Listrik



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id