Permintaan AS untuk Gencatan Senjata Suriah Diabaikan

    Arpan Rahman - 27 Februari 2020 18:13 WIB
    Permintaan AS untuk Gencatan Senjata Suriah Diabaikan
    Kota Idlib, di Suriah menjadi sasaran serangan pasukan pemerintah yang mengincar kelompok pemberontak. Foto: AFP
    Washington: Seruan Amerika Serikat (AS) untuk gencatan senjata di provinsi barat laut Suriah, Idlib, ditepis Rusia dan Turki. Kedua negara itu berjanji melanjutkan apa yang tampaknya menjadi pertempuran terakhir perang sembilan tahun. Meskipun krisis kemanusiaan ‘mengerikan’ berlangsung di sana, seperti yang dijelaskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada Selasa bahwa tidak ada solusi militer untuk pertempuran di Idlib. Itu merupakan satu-satunya wilayah utama Suriah yang tetap berada di luar kendali Presiden Bashar al-Assad dan sekutunya, Rusia dan Iran.

    Wilayah itu menjadi hunian bagi sekitar 3 juta orang sebelum rezim melancarkan ofensif terbarunya pada Desember. Setengah dari populasi ialah pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di tempat lain di Suriah. Wilayah ini sebagian besar dikendalikan oleh milisi Islamis, yang terkuat di antaranya adalah Hayat Tahrir al-Sham yang dulu bersekutu dengan Al Qaeda.

    Lebih dari 900.000 orang sudah meninggalkan rumah mereka ketika pasukan Suriah maju ke Idlib didukung serangan udara Rusia.

    Pemberontak di Idlib didukung oleh pasukan Turki, yang dikerahkan untuk menghalangi kemajuan rezim dan — menurut Presiden Recep Tayyip Erdogan — mencegah gelombang besar pengungsi yang berusaha melintasi perbatasan utara ke Turki.

    Pasukan Turki telah terbunuh dan terluka oleh rezim dan serangan Rusia, sementara tentara Suriah juga tewas dalam operasi Turki.

    Pejabat di Rusia dan Turki mempertahankan garis tanpa kompromi meskipun timbul korban dan risiko memicu konflik yang lebih luas.

    Pada Selasa, Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan setiap gencatan senjata akan sama dengan "menyerah di hadapan teroris." Dia menuduh beberapa pemerintah "berkeinginan untuk membenarkan tindakan keterlaluan yang dilakukan oleh kelompok radikal dan teroris".

    Pada Rabu, Erdogan mengatakan pasukannya di Idlib "tidak akan mengambil langkah mundur kembali." Dia juga berjanji untuk "menyingkirkan rezim ke luar perbatasan" di kawasan itu dan mengatakan Turki tetap "bertekad penuh."

    Erdogan memperingatkan bahwa pasukannya berniat merebut kembali pos-pos pengamatan yang dikuasai pasukan rezim, baik tentara Suriah mundur kembali ke posisi semula atau tidak. "Kami tidak mengawasi wilayah Suriah atau minyaknya," tambahnya.


    "Kami tidak mencari petualangan di luar perbatasan kami. Sebaliknya, kami melakukan perlawanan untuk menjaga keamanan di sepanjang perbatasan kami," cetusnya, disiarkan dari Newsweek, Kamis 27 Februari 2020.

    Pompeo pada Selasa mengutuk "agresi baru brutal Assad di sana, yang secara sinis didukung oleh Moskow dan Teheran." Dia memperingatkan, "Rezim tidak akan bisa mendapatkan kemenangan militer. Serangan rezim hanya mempertinggi risiko konflik dengan sekutu NATO kita Turki."

    Sebaliknya, kedua belah pihak harus menyetujui "gencatan senjata permanen dan negosiasi yang dipimpin AS," tambah Pompeo. Menlu AS mencatat bahwa AS "bekerja sama dengan Turki buat melihat apa yang bisa kita lakukan bersama."

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id