Trump Rencanakan Pembunuhan Soleimani Selama 18 Bulan

    Arpan Rahman - 13 Januari 2020 14:14 WIB
    Trump Rencanakan Pembunuhan Soleimani Selama 18 Bulan
    Warga membentangkan spanduk bergambar Qassem Soleimani di kota Kerman, Iran, 7 Januari 2020. (Foto: AFP/ATTA KENARE)
    Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah merencanakan pembunuhan jenderal asal Iran Qassem Soleimani selama 18 bulan, sebelum akhirnya mengeksekusi rencana tersebut pada Jumat 3 Januari. Menurut laporan New York Times, diskusi antara Trump dan sejumlah pejabat AS lainnya mengenai pembunuhan Soleimani "telah berlangsung selama berbulan-bulan."

    Soleimani tewas dalam serangan udara AS di dekat bandara di Baghdad, Irak. Trump menyebut Soleimani harus dibunuh karena tengah merencanakan serangan terhadap diplomat dan personel militer AS di Irak dan kawasan.

    Kematian Soleimani memicu "pembalasan keras" dari Iran, yang meluncurkan belasan misil balistik ke dua pangkalan yang menampung pasukan AS di Irak pada 8 Januari. Tidak ada kematian dalam serangan itu, meski televisi nasional Iran sempat mengklaim ada 80 personel AS yang tewas.

    Masih dari laporan New York Times, Minggu 12 Januari 2020, Soleimani telah diawasi intelijen AS selama berbulan-bulan. Operasi pengawasan terhadap sang jenderal meningkat pada Mei lalu.

    Soleimani diketahui sering terbang dengan menggunakan pesawat komersil. Untuk menghindari pengawasan, ia kerap memesan beberapa tiket sekaligus, dan juga sering duduk di kelas bisnis agar dapat keluar dengan cepat begitu pesawat mendarat.

    September lalu, otoritas pertahanan AS mempertimbangkan menyerang Soleimani, namun mengatakan kepada Trump bahwa terlalu berisiko jika melakukannya di Iran. AS kemudian membuat beberapa opsi serangan di dua negara, antara Irak atau Suriah.

    Saat ketegangan antara AS dan Iran meningkat, Soleimani terbang ke Lebanon di awal Tahun Baru untuk bertemu pemimpin Hezbollah, Hassan Nasrallah. Di sana, Nasrallah mengingatkan Soleimani mengenai kemungkinan adanya upaya percobaan pembunuhan.

    Sang jenderal disebut-sebut hanya tertawa mendengar ucapan Nasrallah, dan berharap jika pada akhirnya harus tewas, ia akan menjadi seorang martir.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id