Suara Jeblok karena Politik Uang, Krisna Mukti Kapok Nyaleg

    Purba Wirastama - 26 April 2019 16:01 WIB
    Suara Jeblok karena Politik Uang, Krisna Mukti Kapok Nyaleg
    Krisna Mukti (Foto: MI/Adam Dwi)
    Jakarta: Krisna Mukti tidak yakin dirinya kembali terpilih sebagai anggota legislatif DPR periode 2019-2024. Kendati hitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum keluar, data sejumlah kecamatan yang dikumpulkan oleh tim Krisna menunjukkan bahwa perolehan suaranya jeblok.

    "Suara (saya) enggak bagus, saya jatuh banget," kata Krisna kepada reporter Medcom.id, Kamis, 25 April 2019.

    Krisna maju sebagai caleg Partai Nasdem dengan daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat X (Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kota Banjar). Pada periode sebelumnya, ketika bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Krisna lolos masuk DPR dari dapil Jawa Barat VII (Kabupaten Bekasi, Purwakarta, dan Karawang).

    Menurut Krisna, ada beberapa faktor yang membuat perolehan suaranya jeblok tahun ini. Alasan pertama adalah jadwal Pemilu Legislatif (Pilpres) yang serentak dengan Pemilu Presiden, sementara fokus perhatian warga hanya terhadap calon presiden.

    Alasan kedua tidak kalah penting. Menurut Krisna, dia kalah saing dengan caleg bermodal besar yang memberikan uang amplop ke warga jelang pencoblosan. Dia menilai karakter masyarakat dapil Jabar X berbeda dengan Jabar VII, dapilnya lima tahun silam.

    "Ternyata masyarakat di sana masih banyak yang pragmatis, enggak bisa benar-benar melihat suatu ketulusan dan keikhlasan caleg, yang benar-benar mau terjun ke sana," ujar Krisna.

    "Jadi, mereka memang harus dikasih duit dulu (agar mencoblos caleg tertentu), sedangkan saya enggak main begitu sama sekali. Saya pernah berhasil di Jabar VII, saya pikir dapil Jabar X bisa seperti itu."

    Tantangan Krisna di dapil Jabar X cukup berat karena Nasdem di DPR 2014-2019 tidak punya kursi dari cakupan wilayah tersebut. Selain harus "pecah telur", Krisna juga harus berhadapan dengan warga yang berbeda pilihan presiden. Padahal, Krisna dan partainya harus mengkampanyekan presiden yang diusung koalisi.

    "PR saya termasuk buat pecah telur, ternyata enggak pecah juga. Menurut orang-orang DPP Partai Nasdem, ada satu kursi buat Nasdem. Namun kalau saya lihat pemetaan suara, kok kayaknya jauh ya," tutur Krisna.

    Gara-gara persoalan tersebut, Krisna mengaku akan kapok ikut men-caleg jika Pemilu Legislatif berikutnya masih punya potensi masalah yang sama.

    "Sistem pemilu Indonesia kayaknya harus berubah deh. Kalau enggak, ya akan begini terus, enggak sehat buat sistem demokrasi kita. Jadi caleg yang benar-benar mau murni, ikhlas mau tulus bekerja untuk masyarakat, tetapi enggak punya duit, tersingkirkan oleh caleg yang punya uang dan mau nyaleg, dengan tujuan beda," pungkasnya.

     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id